Scroll untuk baca artikel
Daerah

Banjir dan Longsor di Tapsel Bikin Proyek Konstruksi Lumpuh, Pengusaha Kontraktor Menjerit

776
×

Banjir dan Longsor di Tapsel Bikin Proyek Konstruksi Lumpuh, Pengusaha Kontraktor Menjerit

Sebarkan artikel ini

Tapsel, LIVESUMUT.com – Serangkaian bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi pada 24–27 November 2025 di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) menyeret dampak panjang bagi dunia konstruksi. Aktivitas para kontraktor nyaris lumpuh total akibat terputusnya akses jalan, material yang rusak, hingga lokasi pekerjaan yang tak lagi memungkinkan untuk digarap.

Salah satu persoalan paling krusial adalah pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tiba-tiba seret. Kelangkaan tersebut membuat harga BBM pada tingkat pengecer melonjak hingga dua hingga empat kali lipat dari harga normal. Kondisi ini otomatis memicu keterbatasan material konstruksi seperti pasir, batu kali, serta bahan pendukung lainnya.

Sumber material pembangunan yang selama ini mengandalkan pasokan dari Batang Toru (Mabang) dan kawasan Aek Puli, Kabupaten Tapanuli Utara, turut terdampak signifikan. Distribusi tersendat, sementara medan di lapangan tak memungkinkan alat berat dan kendaraan proyek melintas.

Baca Juga :  Banjir-Longsor Tapsel: Syahrul Serukan Kajian Ilmiah Yang Komprehensif Dan Objektif

Tidak hanya itu, bencana yang melanda wilayah Batang Toru, Muara Batang Toru, Sangkunur, Angkola Selatan, Marancar, Sipirok, dan Sayur Matinggi juga memicu kerusakan fisik pada sejumlah pekerjaan konstruksi. Beberapa proyek yang sedang berjalan maupun yang sudah rampung kembali mengalami kerusakan akibat tergerus air, tertimbun material longsor, atau pergeseran tanah.

Ketua BPC Gapensi Tapanuli Selatan, Ali Akbar Hasibuan, mengungkapkan kondisi ini menjadi tantangan berat bagi pelaku usaha konstruksi.

“Banjir dan longsor membuat beberapa ruas jalan tidak bisa dilalui. Mobilisasi alat berat dan material tertahan. Banyak proyek terpaksa dihentikan sementara,” ujarnya, Selasa (09/12/2025).

Baca Juga :  Wali Kota Pematangsiantar Lantik 21 Pejabat Baru, Tegaskan Integritas dan Pelayanan Publik Berbasis Kompetensi

Sejumlah kontraktor juga melaporkan kerusakan material yang sudah terlanjur ditempatkan di lokasi. Pasir dan batu hanyut terbawa arus, semen rusak akibat terendam, serta beberapa peralatan kerja tidak dapat berfungsi karena kondisi tanah yang labil dan berlumpur. Dampak ini membuat biaya operasional membengkak, sementara arus kas perusahaan semakin tertekan.

Gangguan distribusi dari luar daerah pun tak terhindarkan. Truk pengangkut tak mampu menembus titik-titik rawan longsor, membuat pasokan material makin langka dan harganya melambung. Seorang pengusaha kontraktor di Tapsel menyebutkan,

“Biaya jadi jauh di atas perhitungan awal. Namun pekerjaan tidak bisa dipaksakan di tengah risiko keselamatan yang tinggi,” tuturnya.

Baca Juga :  Kadis Pendidikan Tapsel Akan Dilaporkan ke Kejaksaan Terkait Dugaan Pengangkatan THL Ilegal

Melihat situasi yang serba sulit, para kontraktor berharap pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan segera mengambil langkah konkret, mulai dari pembukaan akses darurat, normalisasi jalan, hingga kebijakan relaksasi waktu pengerjaan proyek. Mereka menilai bahwa bencana ini layak dikategorikan sebagai keadaan kahar (force majeure) sehingga waktu penyelesaian tak bisa disamakan dengan kondisi normal.

Para pelaku usaha konstruksi juga mengharapkan kebijakan tambahan waktu pelaksanaan pekerjaan dari pihak Pemkab, terutama dari Bupati, Kepala Dinas, hingga Pejabat Pembuat Komitmen. Penambahan waktu ini diharapkan tetap mengacu pada aturan mengenai keadaan kahar agar administrasi proyek tetap sesuai ketentuan dan pelaksanaan pembangunan dapat memberi manfaat optimal bagi masyarakat.

You cannot copy content of this page