Scroll untuk baca artikel
Daerah

Terowongan Sungai Tersumbat, Warga Simajambu Minta Pemerintah Taput Turun Tangan

634
×

Terowongan Sungai Tersumbat, Warga Simajambu Minta Pemerintah Taput Turun Tangan

Sebarkan artikel ini

Tapanuli Utara, LIVESUMUT.com — Hujan deras yang tak kunjung reda sejak 5 Desember 2025 membuat warga Dusun III Simajambu, Desa Simangumban Jae, Kecamatan Simangumban, hidup dalam kecemasan. Guyuran hujan berkepanjangan itu dinilai berpotensi memicu banjir bandang dan longsor susulan karena kondisi aliran Sungai Aek Simajambu serta tebing sekitarnya masih labil.

Dua warga setempat, Musafir Butarbutar dan Asral Sihombing, menyampaikan bahwa situasi di kampung mereka dalam beberapa hari terakhir sudah memasuki tahap kritis dan membutuhkan perhatian serius Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara.

Bencana yang melanda sejak 25 November 2025 menyebabkan tersumbatnya terowongan (PONOT) aliran Sungai Aek Simajambu. Penyumbatan ini diduga kuat terjadi akibat tumpukan material kayu dari aktivitas di hulu sungai yang terseret arus deras.

Baca Juga :  Polres Pematangsiantar Hadiri Pembukaan Kejuaraan Junior Tenis Antar Pelajar se-Sumut

Melihat kondisi yang tidak menentu, warga menerbitkan maklumat bersama untuk meningkatkan kewaspadaan. Musafir Butar-Butar menyebut bahwa intensitas hujan terus meningkat sejak awal Desember.

“Maka dari itu marilah kita sama-sama waspada adanya banjir bandang maupun longsor. Masih banyak material kayu dan tebing sungai yang rawan longsor susulan,” ucap Musafir Butarbutar, Kamis (11/12/2025)

Bukan hanya ancaman longsor, penyumbatan PONOT juga menimbulkan risiko banjir kiriman. Tumpukan kayu berukuran besar yang tersangkut di aliran sungai diperkirakan dapat hanyut sewaktu-waktu dan menghantam permukiman warga di hilir sepanjang sekitar tiga kilometer.

Baca Juga :  Bupati Taput Pimpin Apel Operasi Ketupat 2026, Pengamanan Mudik Idul Fitri Disiapkan

Asral Sihombing menegaskan bahwa akar persoalan kini sudah terlihat jelas.

“Longsor dan banjir sejak 25 November mengakibatkan terowongan Sungai Aek Simajambu tersumbat oleh banyaknya kayu yang terbawa dari hulu,” sebut Asral Sihombing.

Selain terancam bencana, warga kini kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Aek Simajambu yang selama ini menjadi sumber air utama berubah keruh dan tak layak konsumsi sejak peristiwa banjir.

“Aek Simajambu dulu bisa kami gunakan sehari-hari, tapi sejak banjir airnya keruh dan tidak layak konsumsi. Ini sangat menyulitkan kami,” ucapAsral Sihombing.

Melihat kondisi semakin mendesak, warga Dusun III Simajambu mengajukan tiga permintaan utama kepada Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara:

Baca Juga :  Dampak Banjir dan Longsor di Purbatua, Bupati Taput Pastikan Penanganan Cepat

1. Penanganan penyumbatan terowongan (PONOT) Aek Simajambu.

2. Pembersihan material kayu berukuran besar yang masih menghambat aliran sungai.

3. Solusi pemulihan kualitas air Sungai Aek Simajambu.

Masyarakat berharap pemerintah segera mengirim tim untuk mengecek kondisi di lapangan dan mengambil langkah mitigasi sebelum cuaca ekstrem memperburuk keadaan.

Di akhir penyampaiannya, warga menyampaikan apresiasi sembari kembali meminta perhatian pemerintah.

“Maka dari itu kami memohon kepada Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara untuk segera mencari solusi atas keluhan masyarakat Simajambu. Atas nama warga Dusun III Simajambu, kami ucapkan terima kasih,”tutur Asral.

You cannot copy content of this page