Medan, LIVESUMUT.com – Puluhan siswa SMK Negeri 10 Medan menggelar aksi protes setelah gagal mendaftar Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) akibat kelalaian sekolah.
Bernadetha Maria Christy Manalu (17), salah satu siswa yang terdampak, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
“Saya ingin sekali kuliah di UNY, mau ambil jurusan Tata Busana untuk memperdalam ilmu dan jadi desainer,” ujarnya saat diwawancarai di sekolah.
Namun, harapan itu kandas karena kesalahan teknis dalam pengisian data Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS).
Bersama 139 siswa lain yang mengalami nasib serupa, Bernadetha menggelar aksi protes di lapangan sekolah.
Para siswa, yang mengenakan seragam sekolah dan membawa spanduk, didampingi oleh sejumlah orang tua yang turut meluapkan kekecewaan mereka.
Dengan pengeras suara, para siswa dan orang tua bergantian menyampaikan tuntutan mereka.
Setelah beberapa jam, Pehulysa Sagala, Wakil Kepala Sekolah SMKN 10 Medan Bidang Kurikulum, akhirnya menemui para siswa dan orang tua untuk berdialog.
“Untuk SNBP, kelalaian itu ada di kami. Kami minta maaf. Karena memang, kami tak bisa memprediksi waktu. Untuk itu, saya mewakili sekolah minta maaf,” kata Pehulysa, yang langsung disambut sorakan dari massa aksi.
Namun, jawaban tersebut tidak memuaskan para siswa, termasuk Bernadetha, yang langsung menanggapi pernyataan Pehulysa.
“Saya izin ya, Bu, saya ralat. Saya kemarin dengar jelas, di telinga saya, mungkin kami semua juga dengar, Bu,” ujar Bernadetha.
“Ibu mengatakan coba kalian sadar diri apakah nilai kalian layak untuk SNBP. Apakah itu kata-kata dari seorang guru, Bu? Menjatuhkan mental murid, Bu,” lanjutnya.
Menanggapi pernyataan itu, Pehulysa kembali meminta maaf dan menjelaskan bahwa maksudnya adalah menekankan pentingnya nilai rapor dalam SNBP.
“Maksud saya seperti itu. Mungkin penyampaian saya, dalam pendengaran kalian, pesannya seolah-olah menjatuhkan. Tidak ada maksud saya seperti itu. Kalau kalian merasa niat saya menjatuhkan mental, saya minta maaf,” ujarnya.








