Scroll untuk baca artikel
Nasional

Aliansi Perempuan Indonesia Geruduk DPR: Desak Prabowo Hentikan Represi Aparat

651
×

Aliansi Perempuan Indonesia Geruduk DPR: Desak Prabowo Hentikan Represi Aparat

Sebarkan artikel ini

Jakarta, LIVESUMUT.com |Ratusan perempuan yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Indonesia menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (3/9/2025).

Mereka bersuara lantang, mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera menghentikan kekerasan dan tindakan represif aparat terhadap masyarakat yang menyalurkan aspirasi melalui demonstrasi.

Aksi ini menjadi pengingat kolektif atas sejarah panjang gerakan perempuan di Indonesia. Publik seketika teringat pada “Suara Ibu Peduli” (SIP), sebuah aksi legendaris pada 23 Februari 1998 ketika sekelompok aktivis perempuan berdiri di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, membawa kerisauan rakyat di tengah krisis politik dan ekonomi.

Baca Juga :  Eks Menkumham Yasonna Laoly Mangkir dari Panggilan KPK, Dijadwalkan Ulang 18 Desember

Salah satu aktivis Aliansi Perempuan Indonesia, Mutiara Ika dari jaringan Perempuan Mahardhika, menegaskan bahwa warisan perjuangan perempuan masa lalu menjadi inspirasi untuk langkah hari ini.

“Itu [Suara Ibu Peduli] mengajarkan soal bagaimana gerakan perempuan itu berada di garis depan untuk melindungi demokrasi,” ujar Mutiara dengan suara bergetar namun penuh keyakinan.

Meski isu yang diangkat berbeda, spirit perjuangan dianggap tetap sama, menjaga ruang demokrasi agar tidak dikebiri oleh kekuasaan.

Pada masa Orde Baru, Suara Ibu Peduli berawal dari keresahan terhadap lonjakan harga susu bayi dan kebutuhan pokok akibat krisis moneter.

Baca Juga :  Kasus Rantis Lindas Ojol, Divisi Propam Polri Tahan 7 Anggota Brimob

Aksi sederhana namun berani itu kemudian menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap represi negara.

Kini, 27 tahun berselang, Aliansi Perempuan Indonesia menghadirkan gema serupa, namun dengan isu kontekstual yaitu kebebasan berpendapat dan perlindungan hak-hak sipil.

Dalam orasinya, massa aksi mengecam tindakan represif aparat keamanan terhadap berbagai demonstrasi mahasiswa, buruh, hingga petani, yang dalam beberapa bulan terakhir marak mendapat intimidasi.

Mereka menilai, pendekatan kekerasan justru akan memperlebar jurang ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

“Demokrasi tidak boleh dibungkam dengan gas air mata. Negara seharusnya mendengar, bukan menindas,” seru salah seorang orator aksi dari atas mobil komando.

Baca Juga :  Jelang Kongres, Jokowi & Kaesang Diusulkan Jadi Calon Ketum PSI

Gerakan ini bukan hanya tentang protes, melainkan juga soal solidaritas.

Dengan mengenakan atribut sederhana, membawa spanduk, dan menyuarakan lagu perjuangan, ratusan perempuan itu menegaskan posisi mereka, bahwa perempuan bukan sekadar objek pembangunan, tetapi subjek politik yang berhak menagih tanggung jawab negara.

Aksi mereka disambut dukungan dari berbagai kalangan, mulai dari organisasi mahasiswa, aktivis HAM, hingga tokoh-tokoh masyarakat yang menilai keberanian perempuan berdiri di garis depan merupakan sinyal penting bagi kualitas demokrasi Indonesia.

You cannot copy content of this page