LIVESUMUT.com – China terus memimpin inovasi dalam pertanian dengan menciptakan varietas padi abadi atau perennial rice bernama PR 32.
Berbeda dengan varietas padi biasa, PR 32 hanya memerlukan satu kali penanaman namun dapat dipanen berkali-kali.
Teknologi ini memberikan solusi untuk meningkatkan efisiensi produksi pangan, mengurangi biaya tenaga kerja, serta mendukung praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.
Dilansir dari berbagai sumber, sejak pertama kali diperkenalkan pada 2021, PR 32 telah ditanam di lebih dari 38.000 hektare lahan di berbagai wilayah Tiongkok.
Keberhasilan ini menjadikan PR 32 sebagai salah satu inovasi terobosan dalam upaya meningkatkan hasil panen tanpa menambah tekanan pada lahan pertanian.
Para petani di China telah melaporkan manfaat signifikan dari penggunaan varietas ini, termasuk penurunan biaya produksi dan peningkatan hasil panen.
Kesuksesan ini tidak terlepas dari sejarah panjang China sebagai salah satu produsen beras terbesar di dunia.
Peran Yuan Longping, seorang petani dan ilmuwan China, sangat berpengaruh dalam pencapaian ini.
Pada akhir 1960-an, Yuan berhasil mengembangkan varietas padi hibrida yang menjadi solusi untuk mengatasi kelaparan besar di negaranya.
Padi hibrida ini tidak hanya menghasilkan panen melimpah tetapi juga mampu tumbuh di lahan kurang subur, membuka peluang pertanian di wilayah yang sebelumnya sulit digarap.
Dedikasi Yuan Longping terhadap pengembangan padi hibrida tidak hanya berdampak bagi negaranya.
Ia secara sukarela menyumbangkan temuannya kepada Lembaga Penelitian Padi Internasional.
Hal ini memungkinkan varietas padi hibrida yang dikembangkannya digunakan secara luas di berbagai negara, termasuk Indonesia, Australia, Inggris, Mesir, Italia, Jepang, dan Amerika Serikat.
Kini, PR 32 melanjutkan warisan inovasi Yuan Longping dalam dunia pertanian.
Dengan kemampuannya untuk menghasilkan panen berulang, varietas ini diharapkan dapat menjadi solusi menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim, keterbatasan lahan subur, dan meningkatnya kebutuhan pangan seiring pertumbuhan populasi dunia.
Selain manfaatnya yang jelas secara ekonomi, PR 32 juga mendukung keberlanjutan lingkungan.
Penanaman yang hanya dilakukan sekali mengurangi kebutuhan olah tanah, yang berarti emisi gas rumah kaca dari peralatan pertanian dapat ditekan.
Langkah ini sejalan dengan upaya global untuk mengurangi dampak negatif pertanian terhadap lingkungan.
Melalui inovasi seperti PR 32, China tidak hanya memperkuat posisinya sebagai produsen beras terbesar di dunia, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan tangguh untuk masa depan.







