Scroll untuk baca artikel
Kuliner

Viral! Kampanye “Perayaan Natal dan Tahun Baru Tanpa Daging Anjing” di Medan Curi Perhatian Publik

788
×

Viral! Kampanye “Perayaan Natal dan Tahun Baru Tanpa Daging Anjing” di Medan Curi Perhatian Publik

Sebarkan artikel ini

Medan, LIVESUMUT.com – Media sosial diramaikan oleh aksi kampanye unik di SPBU Simpang Pos Kota Medan pada Jumat (20/12/2024).

Kampanye bertema “Perayaan Natal dan Tahun Baru Tanpa Daging Anjing” ini berhasil menarik perhatian masyarakat dan memicu diskusi hangat di dunia maya.

Tema ini diangkat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan hewan, khususnya anjing, yang kerap menjadi sasaran konsumsi di beberapa daerah.

Melalui unggahan di media sosial, para aktivis mengungkapkan bahwa tradisi menikmati daging anjing masih lazim ditemukan, termasuk di Medan.

Baca Juga :  Natal 2024: Tradisi Pulang Kampung Sepi, Ekonomi Jadi Sorotan

Tradisi ini sering kali mencapai puncaknya pada bulan Desember hingga Januari, ketika permintaan daging anjing meningkat secara signifikan.

Fakta ini menjadi alasan utama kampanye dilakukan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, dua momen yang identik dengan perayaan keluarga.

Salah satu unggahan yang mencuri perhatian datang dari akun @kadeklusiana18 yang menulis, “Save dog,” sebagai seruan untuk menghentikan praktik ini.

Komentarnya mendapat dukungan dari akun @herawati yang membalas, “Indeed, betul sekali.” Respons ini mencerminkan adanya dukungan dari sejumlah warganet terhadap kampanye tersebut.

Baca Juga :  Wakapolres Pelabuhan Belawan Meninggal Dunia dalam Kecelakaan di Tol Belmera

Namun, kampanye ini tidak lepas dari kritik.

Sebagian masyarakat mempertanyakan relevansi ajakan ini dengan budaya dan tradisi lokal yang telah lama ada.

Bagi sebagian orang, konsumsi daging anjing dianggap sebagai bagian dari kebiasaan yang sulit diubah dan masih memiliki nilai budaya tertentu.

Meski menuai pro dan kontra, kampanye ini berhasil menciptakan diskusi terbuka mengenai perlakuan terhadap hewan.

Kampanye ini juga menjadi momentum untuk menyoroti kurangnya regulasi terkait perlindungan hewan di Indonesia.

Dengan respons yang beragam, kampanye ini telah membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai keseimbangan antara budaya lokal dan perlindungan hewan.

You cannot copy content of this page