Humbang Hasundutan, LIVESUMUT.com – Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka bersama sang istri, Selvi Ananda, menyambangi Pasar Tradisional Doloksanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara, Jumat (16/5/2025), dalam kunjungan yang disebut warga lokal sebagai “maronan” (berbelanja langsung ke pasar).
Kunjungan yang turut diwarnai aksi membeli sayuran dan berdialog dengan para pedagang ini tampak disambut meriah masyarakat.
Bahkan tak sedikit pengunjung pasar mengabadikan momen dengan gawai, berswafoto, dan memvideokan kedatangan orang nomor dua di republik ini.
Tak sendiri, Wapres Gibran juga didampingi Gubernur Sumut Bobby Nasution (yang juga iparnya) beserta istri, Kahiyang Ayu.
Kedekatan keluarga Presiden Jokowi itu menarik perhatian publik, seolah menjadikan pasar tradisional sebagai ajang silaturahmi keluarga sekaligus panggung publik yang strategis.
Di sela kunjungan, Wapres terlihat menyapa dan bersalaman dengan pedagang sepanjang jalan pasar.
Beberapa komoditas lokal seperti sayuran, buah-buahan, dan hasil hortikultura lainnya turut dibeli dari para petani setempat.
Kunjungan ini juga menjadi bagian dari agenda kerja Gibran di Kabupaten Humbahas, selain meninjau Puskesmas Sigompul dan Taman Sains Teknologi Herbal dan Hortikultura (TSTH2) Pollung.
Namun di balik euforia dan keramahtamahan kunjungan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: Apa capaian konkret Wakil Presiden sejak dilantik?
Di tengah tantangan ekonomi, tekanan harga pangan, dan lemahnya daya beli masyarakat, aksi kunjungan ke pasar, walau simbolis, dinilai belum cukup menggambarkan langkah substantif seorang Wakil Presiden.
Publik menanti lebih dari sekadar salam, senyum, dan belanja.
Mereka menunggu program nyata yang menyentuh akar masalah rakyat kecil seperti stabilitas harga, akses pasar bagi petani, hingga keberlanjutan rantai pasok pertanian.
Sementara itu, kinerja kelembagaan Wakil Presiden selama ini juga nyaris tak terdengar bergaung dalam pengambilan kebijakan strategis nasional.
Gibran, yang sempat menjadi perdebatan saat pencalonan karena usia dan rekam jejak politik yang singkat, kini berada dalam sorotan tajam.
Apakah ia mampu membuktikan diri sebagai pemimpin nasional yang visioner dan bukan sekadar simbol pencitraan?
Kunjungan ke pasar rakyat memang penting sebagai bentuk kehadiran negara di tengah rakyat.
Namun, tanpa arah kebijakan yang kuat, langkah-langkah ini rentan dinilai sebagai “window dressing” politik yang lebih menekankan citra ketimbang kerja nyata.
Masyarakat tentu berharap lebih dari seorang Wakil Presiden.
Bukan sekadar hadir untuk berfoto atau membeli cabai, tetapi membawa perubahan sistemik yang bisa dirasakan petani, pedagang kecil, dan rakyat di pelosok negeri.
Karena pada akhirnya, yang diharapkan dari pemimpin bukanlah sekadar kunjungan, melainkan keputusan dan keberpihakan.













