Scroll untuk baca artikel
Daerah

SDN 173226 Sirpang Keluhkan Krisis Air: Ketika Tidak Hujan, Terpaksa ke Semak-semak Buang Hajat

814
×

SDN 173226 Sirpang Keluhkan Krisis Air: Ketika Tidak Hujan, Terpaksa ke Semak-semak Buang Hajat

Sebarkan artikel ini

Tapanuli Utara, LIVESUMUT.com | Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, ironi justru terjadi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 173226 Sirpang Bolon, Kecamatan Garoga, Kabupaten Tapanuli Utara.

Sekolah ini hingga kini masih mengalami krisis air bersih yang sangat memprihatinkan.

Kepala Sekolah, Onni Siregar, S.Pd, mengungkapkan keluhan mendalam terkait kesulitan mendapatkan air bersih yang dialami guru maupun murid setiap harinya.

“Air tidak ada di sekolah dan sumber air sangat susah didapatkan, akibatnya guru dan murid tidak leluasa ke kamar mandi,” ujar Onni Siregar saat ditemui, Selasa (9/9/2025).

Baca Juga :  Program KASAD, 30 Sumur Bor Dibangun di Samosir

Lebih lanjut, Onni menjelaskan bahwa satu-satunya cara sekolah mendapatkan air adalah dengan menampung air hujan.

Namun, ketika hujan tak turun, murid dan guru terpaksa harus mencari alternatif lain yang sangat tidak layak.

“Adapun air yang bisa dipakai di kamar mandi karena menampung air hujan. Kalau hujan tidak turun, murid dan guru sering ke semak-semak buang hajat, baik buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB),” pungkasnya.

Permohonan Orangtua dan Masyarakat

Orangtua murid dan masyarakat sekitar pun merasa prihatin.

Mereka berharap Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara melalui Dinas Pendidikan segera membuat solusi nyata, salah satunya dengan pembangunan sumur bor di lingkungan sekolah.

Baca Juga :  Air Danau Toba Menyusut, BMKG dan PJT I Siapkan Modifikasi Cuaca

“Sekarang tidak zamannya lagi murid dan guru ke semak-semak untuk buang air. Kasihan melihat mereka yang tidak aman dan tidak sehat akibat susahnya air bersih,” ucap seorang wali murid.

Sayangnya, berbagai usulan dalam forum resmi seperti Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbang) belum pernah mendapat realisasi.

Bahkan, sebuah sumur bor yang pernah dibangun oleh pihak kabupaten hanya bertahan dua minggu sebelum akhirnya mati.

“Pernah juga ada sumur bor dari kabupaten, tetapi umurnya hanya dua minggu dan langsung mati. Mungkin karena pemborannya kurang dalam, akibatnya air tidak naik lagi,” tambah Kepala Sekolah.

Baca Juga :  Kunker ke Parmonangan, Bupati Taput Siapkan Rp 2 Miliar untuk Perbaikan Jalan

Krisis air ini tidak hanya soal kebutuhan dasar, tetapi juga menyangkut kesehatan, kenyamanan, dan martabat para guru serta murid.

Tanpa air bersih, kegiatan belajar mengajar terganggu, kebersihan sekolah tidak terjaga, dan risiko penyakit semakin tinggi.

Pihak sekolah, guru, murid, hingga masyarakat menegaskan permohonan mereka agar pemerintah segera menanggapi keluhan ini.

“Air itu sangat penting buat kehidupan, apalagi untuk sekolah anak-anak didik,” tegas Onni Siregar.

You cannot copy content of this page