Medan, LIVESUMUT.com – Dugaan praktik calo SIM berkedok tenaga medis mencuat di layanan Satpas Prototype SIM Medan. Isu ini mengarah pada pengurusan tes psikologi dan kesehatan yang diduga cukup dilakukan dengan mengirim data, tanpa melalui pemeriksaan langsung.
Informasi ini dihimpun dari narasumber terpercaya yang enggan disebutkan identitasnya, pada Kamis (9/4/2026). Dari keterangan yang diperoleh, praktik tersebut diduga melibatkan oknum internal layanan Satlantas serta pihak swasta.
Disebutkan, terdapat dugaan kerja sama antara pihak Satlantas dengan sejumlah lembaga pemeriksa kesehatan dan psikologi, seperti Skolab, layanan tes psikologi Insight, serta Klinik dr. Radiah Hasibuan.
Dalam praktiknya, calo yang diduga berkedok tenaga medis maupun pegawai layanan psikologi disebut bebas beroperasi. Beberapa nama yang diduga disebut antara lain Rika, yang mengatasnamakan perawat dari Klinik dr. Radiah Hasibuan, Elma dari bagian psikologi, serta Putri dari Skolab.
Mereka diduga menerima pesanan pembuatan dokumen tes kesehatan dan tes kejiwaan secara daring melalui aplikasi WhatsApp. Pesanan tersebut disebut berasal dari berbagai pihak, termasuk oknum petugas di lingkungan Satpas, mulai dari anggota kepolisian, PNS hingga PHL.
Modus yang diungkapkan cukup mencengangkan. Data pemohon berupa KTP atau SIM cukup dikirim melalui pesan WhatsApp, lalu dokumen persyaratan langsung diproses tanpa pemeriksaan langsung terhadap pemohon.
“Setelah data dikirim, berkas langsung dibuat tanpa pemohon datang. Bahkan, kertas hasil tes kesehatan dan psikologi itu kemudian dibawa ke Satpas,” ungkap narasumber.
Selanjutnya, berkas tersebut disebut langsung didistribusikan ke kantor Satpas untuk digunakan dalam proses penerbitan SIM.
Kondisi ini memunculkan dugaan adanya praktik “SIM hantu” yang berpotensi merusak integritas pelayanan publik dan melanggar prosedur yang telah ditetapkan.
Hingga saat ini, belum dapat dipastikan apakah praktik tersebut merupakan inisiatif oknum atau melibatkan pihak lain secara lebih luas. Namun, situasi ini memunculkan pertanyaan serius terkait pengawasan internal di Satpas Prototype SIM Medan.
Sejumlah pihak pun mendesak agar persoalan ini segera diusut tuntas. Kasatlantas Polrestabes Medan bersama Kanit Regident dan Panit Regident diminta mengambil langkah tegas terhadap dugaan peredaran surat kesehatan dan psikologi yang diproses tanpa mekanisme resmi.
Jika terbukti, praktik ini tidak hanya mencederai kepercayaan publik, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan di jalan raya akibat penerbitan SIM tanpa uji kelayakan yang semestinya.
Meski demikian, informasi ini masih memerlukan pendalaman lebih lanjut. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Satlantas Polrestabes Medan maupun pihak-pihak yang disebutkan.
Sesuai prinsip keberimbangan dalam kode etik jurnalistik, redaksi masih terus berupaya melakukan konfirmasi dan klarifikasi kepada seluruh pihak terkait. Perkembangan kasus ini akan terus ditelusuri dan diperbarui setelah adanya pernyataan resmi dari pihak berwenang.












