Scroll untuk baca artikel
Nasional

Menkes Budi Prediksi 28 Juta Warga Indonesia Alami Masalah Kejiwaan

374
×

Menkes Budi Prediksi 28 Juta Warga Indonesia Alami Masalah Kejiwaan

Sebarkan artikel ini

Jakarta, LIVESUMUT.com – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memprediksi jumlah penduduk Indonesia yang mengalami masalah kejiwaan mencapai angka yang tidak sedikit, yakni sekitar 28 juta orang. Prediksi tersebut merujuk pada metode perhitungan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO).

Menurut Budi, WHO memperkirakan jumlah penduduk dengan masalah kejiwaan di suatu negara berada pada kisaran satu per delapan hingga satu per sepuluh dari total populasi. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 280 juta jiwa, angka tersebut dinilai relevan.

“Jadi kalau Indonesia 280 juta (penduduk), ya minimal 28 juta (orang) tuh punya masalah kejiwaan,” kata Budi dalam rapat kerja bersama Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Jakarta pada Senin, 19 Januari 2026.

Baca Juga :  Rp9 Miliar untuk Masa Lalu: Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia Dimulai

Budi menjelaskan, masalah kesehatan jiwa yang dialami masyarakat Indonesia sangat beragam, mulai dari kategori ringan hingga berat. Gangguan tersebut mencakup depresi, gangguan kecemasan, skizofrenia, hingga gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas atau attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

Meski demikian, hasil skrining awal melalui program cek kesehatan gratis menunjukkan angka gangguan jiwa yang terdeteksi masih relatif rendah. Data sementara mencatat gangguan jiwa pada kelompok orang dewasa berada di bawah satu persen, sementara pada anak-anak sekitar lima persen.

Baca Juga :  Sinergi Pusat dan Daerah, Strategi Baru Promosi Event Wisata Samosir Diluncurkan

Namun Budi menegaskan, hasil skrining tersebut tidak bisa menjadi gambaran akhir kondisi kesehatan jiwa nasional. Ia menyebut skrining hanyalah langkah awal untuk mendeteksi dan membuka akses layanan kesehatan jiwa bagi masyarakat.

Sebagai tindak lanjut, Kementerian Kesehatan saat ini tengah menyiapkan sistem layanan kesehatan jiwa agar dapat diakses langsung di tingkat pusat kesehatan masyarakat (puskesmas).

“Kami sedang bangun sistemnya supaya bisa dilayani di puskesmas-puskesmas,” kata dia.

Berbagai fasilitas pendukung mulai dipersiapkan, mulai dari layanan konseling oleh psikolog hingga ketersediaan obat-obatan untuk gangguan kejiwaan. Dengan sistem ini, puskesmas diharapkan menjadi rujukan awal yang mudah dijangkau masyarakat sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan.

Baca Juga :  Sebut Rakyat "Tolol", Rumah Ahmad Sahroni Diserbu Massa: Brankas Berisi Uang Dijarah

Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2023, provinsi dengan persentase penderita gangguan jiwa tertinggi tercatat berada di DKI Jakarta sebesar 24,3 persen. Angka tersebut diikuti oleh Nanggroe Aceh Darussalam 18,5 persen, Sumatera Barat 17,7 persen, Nusa Tenggara Barat 10,9 persen, Sumatera Selatan 9,2 persen, dan Jawa Tengah 6,8 persen.

Data ini sekaligus menjadi pengingat bahwa isu kesehatan jiwa bukan lagi persoalan pinggiran, melainkan tantangan serius yang membutuhkan perhatian, layanan yang mudah diakses, serta dukungan lintas sektor agar masyarakat berani mencari bantuan sejak dini.

You cannot copy content of this page