Scroll untuk baca artikel
Entertainment

Reog Ponorogo di Simalungun: Harmoni Budaya Jawa dan Batak di Tengah Semangat Multikulturalisme

790
×

Reog Ponorogo di Simalungun: Harmoni Budaya Jawa dan Batak di Tengah Semangat Multikulturalisme

Sebarkan artikel ini

Simalungun, LIVESUMUT.com – Di balik hijaunya perbukitan Simalungun, Sumatera Utara, lahirlah kisah unik tentang bagaimana warisan budaya Jawa Timur tumbuh subur dan menyatu dengan tradisi lokal Batak.

Kesenian Reog Ponorogo, yang identik dengan kekuatan, mistik, dan kemegahan, kini menjadi bagian penting dalam dinamika budaya masyarakat Simalungun.

Perjalanan Reog Ponorogo ke tanah Batak bukanlah hal yang terjadi dalam semalam.

Ketua Umum Komunitas Reog Jawa Peranakan Sumatera Utara (KJRPS), Muhammad Dimas Pramana, mengisahkan bahwa kesenian ini dibawa oleh para migran Jawa yang datang sebagai buruh kontrak pada tahun 1999 hingga 2000.

“Ada perpaduan yang indah antara Reog Ponorogo dengan unsur budaya Batak. Gerakan tari, musik, dan kostumnya memiliki sentuhan khas Simalungun,” ungkap Dimas.

Akulturasi budaya ini tampak dari penggunaan alat musik Batak seperti gondang, serta tarian yang mulai mengadopsi elemen khas tari Simalungun.

Baca Juga :  Aldio–Respati Raih Juara Rally APRC 2025 Putaran ke-3 di Simalungun

Namun, Dimas menegaskan bahwa Reog Ponorogo di Simalungun telah mengalami pergeseran bentuk.

“Banyak perbedaan, dimana Reog di Simalungun lebih fokus mengembangkan jaranan (kuda lumping) daripada Reog-nya sendiri,” tegasnya.

Di tanah Jawa, Reog dan jaranan punya peran berbeda, Reog sarat unsur magis, sedangkan jaranan bersifat hiburan.

Tapi di Simalungun, keduanya disatukan.

“Namun, di Sumatera Utara, keduanya disatukan karena tidak ada penjajah yang membatasi ekspresi budaya, berbeda dengan masa kolonial di Jawa,” ungkapnya.

Hal unik lainnya adalah ketiadaan konsep kerajaan yang mengatur kesenian seperti di Ponorogo.

“Kita di Sumatera Utara tidak ada kerajaan yang mengikuti alur sama seperti Republik ini,” ujar Dimas.

Kemerdekaan berekspresi ini membuka jalan bagi kolaborasi budaya yang lebih lepas.

Bahkan, masyarakat Batak dari berbagai marga seperti Damanik, Sitorus, dan Sihotang kini turut serta mempelajari dan melestarikan Reog.

Baca Juga :  Motor Hilang Tak Diganti, Konsumen Laporkan Xana Billiard ke BPSK Medan

Dimas mencatat ada 46 sanggar seni aktif di Simalungun yang mengembangkan Reog, naik drastis dari 14 sanggar pada 2019.

KJRPS sendiri membawahi 179 sanggar di Sumatera Utara dengan total 13.000 anggota aktif di Simalungun.

“Kami ingin generasi muda Simalungun terus mencintai dan melestarikan Reog Ponorogo. Ini adalah warisan budaya yang tak ternilai,” kata Dimas.

Reog juga menjadi bagian dari berbagai festival budaya dan upacara adat di daerah ini.

Bahkan dalam ajang internasional F1 Powerboat Danau Toba 2024, Reog tampil memukau bersama kesenian lokal lainnya.

“Reog Ponorogo menjadi simbol kebersamaan dan kegembiraan. Setiap kali ditampilkan, selalu menarik perhatian banyak orang,” tuturnya.

Namun, pelestarian ini tak lepas dari tantangan.

Mulai dari regenerasi seniman muda, keterbatasan perlengkapan, hingga stigma negatif yang mengaitkan Reog dengan keyakinan agama tertentu.

Baca Juga :  Pengakuan Mengejutkan Lucinta Luna: Ingin Dimakamkan Sebagai Laki-Laki

“Walaupun modernisasi terus berjalan, kesenian ini tidak akan pernah mati,” ujar Dimas dengan penuh optimisme.

Ia berharap pemerintah daerah, terutama di bawah kepemimpinan Bupati Anton Saragih, dapat menyediakan ruang terbuka hijau bagi sanggar-sanggar berkumpul, sekaligus memperkuat dukungan terhadap kegiatan seni ini.

Lebih dari sekadar hiburan, kehadiran Reog Ponorogo turut menghidupkan UMKM lokal yang memproduksi perlengkapan dan kostum, sekaligus menjadi simbol inklusi sosial.

“Antusiasme masyarakat Simalungun, termasuk dari kalangan non-Jawa, sangat tinggi, bahkan banyak anak muda yang tertarik mempelajarinya,” katanya.

Dengan semangat yang tak padam, dukungan masyarakat, dan kolaborasi budaya yang harmonis, Reog Ponorogo di Simalungun kini bukan lagi milik satu etnis, tapi milik semua, cerminan Indonesia yang kaya dan bersatu dalam keberagaman.

You cannot copy content of this page