Samosir, LIVESUMUT.com – Ketegangan tengah menyelimuti masyarakat dan pengelola kawasan wisata Pantai Pasir Putih Parbaba, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir.
Mereka resah dan merasa terusik akibat adanya rencana dari Pemerintah Kabupaten Samosir yang disebut-sebut akan membongkar tempat usaha mereka di kawasan wisata andalan tersebut.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, Pantai Pasir Putih Parbaba bukan sekadar tempat wisata biasa, melainkan simbol perjuangan dan hasil karya masyarakat lokal, yang sejak lama dibangun secara swadaya tanpa sentuhan bantuan dari pemerintah daerah, provinsi, maupun pusat.
“Di waktu Bapak Mangindar Simbolon Bupati Samosir dua periode mendukung adanya Pantai Pasir Putih Parbaba. Dan sewaktu Bapak Rapidin Simbolon juga Bupati, mendukung adanya Tempat Prawisata Pasir Putih Parbaba..! Sekarang Bapak Vandiko Gultom Bupati Samosir, kok ada rencana pembongkaran tempat prawisata Pasir Putih Parbaba? Ini jadi polemik buat masyarakat Parbaba dan pengelola Pantai Pasir Putih Parbaba..!! Ada apa sebenarnya yang ada di benak Bapak Bupati, sampai tidak memikirkan dampaknya. Padahal tempat prawisata Pantai Pasir Putih Parbaba adalah hasil karya dari masyarakat sendiri tanpa ada bantuan dari Pemkab, provinsi, dan pusat,” ungkap salah satu pengelola dengan nada kecewa pada Sabtu (28/6/2025).
Lebih jauh, masyarakat menilai tempat tersebut bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga warisan leluhur.
“Pantai Pasir Putih Parbaba menjadi tempat wisata kepingan surga wujud karya nyata dan perjuangan nenek moyang masyarakat Parbaba dan dikembangkan sama anak-anaknya dan akhirnya viral dan bisa dikunjungi pengunjung dari seluruh NKRI dan bahkan dikunjungi masyarakat dari manca negara,” ujar pengelola lainnya.
Mereka pun menegaskan, tindakan pembongkaran akan mematikan mata pencaharian masyarakat lokal, yang seluruhnya adalah putra-putri asli Samosir.
“Perjuangan kami pihak pengelola supaya tidak sia-sia dan pastinya menghargai hasil jerih payah dari nenek moyang kami,” sahut pengelola dengan nada sedih.
Tak hanya pengelola, masyarakat Desa Hutabolon juga turut menyuarakan keresahan mereka.
“Pemerintah sudah termasuk membunuh masyarakat Parbaba secara pelan-pelan, alasannya karena tempat mereka untuk mengais rezeki / cari makan dibongkar. Pastinya kami masyarakat hilang mata pencaharian kami dan anak-anak pasti putus sekolah,” pungkas seorang warga.
Ironisnya, selama ini pemerintah daerah tetap menarik retribusi dan pajak dari kawasan wisata tersebut.
“Pemkab menagih retribusi pajak pendapatan setiap bulan dan menagih retribusi di setiap pintu masuk Rp. 500/orang. Berarti hasil PAD (Pendapatan Asli Daerah) Kabupaten Samosir terus bertambah, belum bayar pajak bangunan,” tambah masyarakat.
Kini masyarakat berharap penuh kepada Pemerintah Kabupaten Samosir agar mempertimbangkan ulang rencana pembongkaran tersebut.
Mereka meminta penghargaan atas jerih payah, sejarah, dan ekonomi rakyat kecil yang hidup dari denyut kehidupan wisata Pantai Pasir Putih Parbaba.













