Scroll untuk baca artikel
Sport

BRI Super League 2025-2026 Didominasi Pelatih Asing, Kesit: Kita Tak Kekurangan Pelatih Lokal

643
×

BRI Super League 2025-2026 Didominasi Pelatih Asing, Kesit: Kita Tak Kekurangan Pelatih Lokal

Sebarkan artikel ini

Jakarta, LIVESUMUT.com | Kompetisi BRI Super League 2025-2026 akan bergulir dengan warna yang jelas didominasi pelatih asing. (Foto: Kesit B. Handoyo, pengamat sepakbola nasional)

Dari 18 klub peserta, hanya satu yang memilih pelatih lokal.

Pengamat sepak bola Indonesia, Kesit Budi Handoyo, menegaskan fenomena ini bukan karena krisis pelatih dalam negeri.

“Sebenarnya kita tidak kekurangan pelatih lokal,” kata Kesit, Minggu (10/82025).

Menurut Kesit, pilihan klub lebih didorong oleh rekam jejak.

Foto: Pelatih Malut United Hendri Susilo, satu-satunya pelatih lokal di BRI Super League 2025-2026.

Banyak pelatih lokal belum mampu membawa klub menjadi juara Liga Indonesia, sehingga dianggap kalah bersaing dengan pelatih asing.

Faktor lain adalah regulasi kompetisi yang memberikan kuota lebih besar bagi pemain asing.

“Kran pemain asing yang lebih banyak dibuka membuat banyak klub lebih menjatuhkan pilihannya kepada pelatih asing,” ujarnya.

Baca Juga :  Tottenham Hotspur Lolos ke Perempat Final Piala Liga Setelah Kalahkan Manchester City 2-1

Hanya Malut United Bertahan dengan Pelatih Lokal.

Musim ini, 18 klub yang bertarung adalah Persib Bandung, Dewa United, Malut United, Persebaya Surabaya, Borneo FC, PSM Makassar, Persija Jakarta, Bali United, PSBS Biak, Arema FC, Persita Tangerang, Persik Kediri, Semen Padang, Persis Solo, Madura United, PSIM Yogyakarta, Bhayangkara FC, dan Persijap Jepara.

Dari semua tim itu, hanya Malut United yang dilatih oleh pelatih lokal, Hendri Susilo.

Sisanya, kursi pelatih didominasi nama-nama asing seperti Johnny Jansen (Bali United) dan Jan Olde Riekerink (Dewa United) dari Belanda; Mauricio Souza (Persija Jakarta) dan Marquinhos Santos (Arema FC) dari Brasil; serta Bernardo Tavares (PSM Makassar), Mario Lemos (Persijap Jepara), dan Eduardo Almeida (Semen Padang) dari Portugal.

Baca Juga :  Arsenal vs Manchester City (02/02/2025) : Duel Sengit di Emirates, Siapa yang Akan Berjaya?

Kesit meminta Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan I.League, selaku operator kompetisi, mengambil langkah konkret untuk regenerasi dan peningkatan kualitas pelatih lokal.

“Langkah paling konkret adalah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada pelatih lokal menangani klub-klub di Liga,” katanya.

Ia juga mendorong pelatih lokal untuk meningkatkan kapasitas dan mencari peluang berkarier di luar negeri, agar pengalaman internasional bisa dibawa kembali ke dalam negeri.

Kesit menilai, dominasi pelatih asing tak lepas dari regulasi pemain asing yang lebih longgar.

Musim ini, I.League, yang sebelumnya bernama PT Liga Indonesia Baru, mengizinkan setiap klub mendaftarkan 11 pemain asing dan memainkan delapan di satu pertandingan.

Baca Juga :  Mantan Atlet Nasional Kompak Dukung Parluatan Siregar untuk Pimpin KONI Sumut

Aturan ini memicu protes, termasuk dari Ketua Umum PSSI Erick Thohir, sehingga diubah menjadi formula 11-9-7, klub boleh mendaftarkan 11 pemain asing, memasukkan sembilan ke daftar susunan pemain, dan hanya memainkan maksimal tujuh.

Meski demikian, Kesit mengingatkan dampak jangka panjangnya.

“Banyaknya pemain asing belum tentu mampu memperkaya gaya bermain. Yang jelas banyaknya pemain asing membuat peluang pemain lokal menjadi lebih sempit,” tegasnya.

Kesit menambahkan, situasi ini bisa memengaruhi pembinaan pemain muda.

“Suka atau tidak situasi ini akan berpengaruh pada pembinaan pemain lokal sebagai cikal-bakal tim nasional,” ujarnya.

You cannot copy content of this page