India, LIVESUMUT.com | Satelit NISAR (NASA-ISRO Synthetic Aperture Radar) resmi diluncurkan dari Pusat Antariksa Satish Dhawan di Sriharikota, India.
Satelit ini membawa sistem radar canggih yang mampu menghasilkan gambaran tiga dimensi Bumi dengan detail yang belum pernah dicapai sebelumnya.
NISAR merupakan hasil kerja sama antara badan antariksa Amerika Serikat (NASA) dan India (ISRO).
Satelit ini dirancang untuk mendeteksi pergerakan permukaan Bumi dan es hingga ke tingkat sentimeter.
Data dari NISAR akan digunakan untuk membantu berbagai hal penting, mulai dari tanggap bencana, pemantauan infrastruktur, hingga pengelolaan pertanian.
Satelit ini diluncurkan menggunakan roket GSLV milik ISRO pada Rabu (31/7/2025) pukul 17.40 waktu India.
Sekitar 20 menit setelah peluncuran, pengendali darat mulai berkomunikasi dengan NISAR dan mengonfirmasi bahwa satelit berfungsi dengan baik.
“Selamat kepada seluruh tim misi NISAR atas peluncuran sukses yang melintasi berbagai zona waktu dan benua dalam kemitraan perdana antara NASA dan ISRO dalam misi sebesar ini,” kata Nicky Fox, perwakilan NASA dalam rilis resminya.
“Di saat-saat yang paling krusial, data NISAR akan membantu memastikan kesehatan dan keselamatan mereka yang terdampak di Bumi.” tambahnya.
Dari ketinggian sekitar 747 kilometer di atas permukaan Bumi, NISAR akan memantau berbagai perubahan di permukaan tanah, es, hutan, dan lahan pertanian.
Satelit ini bisa mendeteksi perubahan akibat gempa bumi, letusan gunung berapi, dan tanah longsor, bahkan saat terjadi badai atau dalam kondisi gelap.
“Dengan peluncuran yang sukses ini, kami berada di ambang pemenuhan potensi ilmiah luar biasa yang NASA dan ISRO bayangkan untuk misi NISAR lebih dari 10 tahun yang lalu,” ujar Ketua ISRO, V Narayanan.
“Kemampuan canggih misi radar ini akan membantu kami mempelajari permukaan daratan dan es Bumi yang dinamis secara lebih detail daripada sebelumnya.” tambahnya.
NISAR adalah satelit pertama yang membawa dua jenis radar sekaligus radar pita-L dari NASA dan radar pita-S dari ISRO.
Radar ini bisa menembus awan dan bekerja siang-malam, sangat berguna dalam berbagai kondisi cuaca.
Menurut NASA, misi NISAR akan memantau hampir seluruh permukaan daratan dan es di dunia dua kali setiap 12 hari.
Ini termasuk daerah kutub selatan yang jarang terjangkau oleh satelit lain.
“Observasi dari NISAR akan memberikan pengetahuan baru dan manfaat nyata bagi masyarakat, baik di AS maupun di seluruh dunia,” kata Karen St. Germain, Direktur Divisi Ilmu Bumi NASA.
“Peluncuran ini menandai dimulainya cara baru dalam memandang permukaan planet kita.” jelasnya.
Misi ini merupakan hasil kolaborasi setara antara NASA dan ISRO.
Kedua badan antariksa tersebut bersama-sama merancang dan membangun perangkat keras radar.
NASA bertanggung jawab atas radar pita-L dan sistem pendukung lainnya, sementara ISRO menangani radar pita-S, peluncuran satelit, serta pengoperasiannya dari darat.
“Kami bangga dengan tim internasional di balik satelit luar biasa ini,” kata Dave Gallagher dari NASA Jet Propulsion Laboratory.
“Intinya adalah radar apertur sintetis, teknologi yang memungkinkan kita mempelajari Bumi kapan saja, dalam segala cuaca.” ujarnya.
Dalam 90 hari ke depan, NISAR akan menjalani tahap pengujian dan kalibrasi sebelum mulai menjalankan tugasnya sepenuhnya.
Setelah itu, satelit ini diharapkan menjadi salah satu alat penting dunia untuk memahami dan menghadapi perubahan Bumi secara akurat dan berkelanjutan.













