Scroll untuk baca artikel
Advertisement
Advertisement
Promo Mitsubishi Medan - Hubungi Santo Manalu
NasionalTNI/Polri

Dua Calon Manajer Koperasi Merah Putih Meninggal Saat Ikut Pelatihan Militer

324
×

Dua Calon Manajer Koperasi Merah Putih Meninggal Saat Ikut Pelatihan Militer

Sebarkan artikel ini
Peserta mengikuti rangkaian Diklat militer Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) sebagai bagian dari proses pembekalan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang digelar dengan pendampingan TNI.

Kalimantan Timur, LIVESUMUT.com – Dua calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) meninggal dunia saat mengikuti pendidikan dan pelatihan (Diklat) militer Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang digelar di dua lokasi berbeda, yakni Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur, dan Puslatpur Kodiklatad Baturaja.

Kegiatan Diklat yang dibimbing oleh TNI tersebut merupakan bagian dari tahapan persyaratan bagi para calon manajer Koperasi Desa Merah Putih. Namun, pelaksanaan pelatihan ini sebelumnya sempat menuai sorotan dari sejumlah masyarakat dan pengamat yang menilai pola pendidikan berbasis kedisiplinan militer kurang tepat diterapkan bagi calon pengelola koperasi.

Klik gambar untuk melihat produk dan belanja di Shopee 👇!

Meski demikian, pemerintah tetap mempertahankan program tersebut dengan alasan Diklat SPPI bertujuan membentuk karakter, menumbuhkan rasa cinta tanah air, serta membangun semangat para peserta dalam menjalankan tugas sebagai penggerak ekonomi desa.

Dua peserta yang meninggal dunia diketahui bernama Anisa Muyassaroh asal Jawa Timur dan Yonanda Muhammad Taufiq.

Anisa meninggal saat menjalani pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan. Ia mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026 dan sempat mendapatkan penanganan medis dari fasilitas kesehatan satuan sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit.

Baca Juga :  Hari Pertama Bertugas, AKBP Yon Edi Silaturahmi ke Ponpes KH. Ahmad Dahlan

“Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal akibat heat stroke,” kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait, dalam keterangan tertulis pada Selasa, 23 Juni 2026.

Sementara itu, Yonanda Muhammad Taufiq yang mengikuti pendidikan di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja mengalami penurunan kondisi kesehatan pada 17 Juni 2026.

Yonanda telah mendapatkan pertolongan dari tenaga kesehatan satuan sebelum kemudian dirujuk ke rumah sakit.

“Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest (henti jantung),” tutur Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait.

Rico menjelaskan, sebelum mengikuti program Diklat SPPI, kedua peserta telah menjalani proses seleksi sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk pemeriksaan kesehatan, dan dinyatakan memenuhi persyaratan untuk mengikuti seluruh rangkaian pendidikan.

Kodam VI/Mulawarman Sampaikan Duka Mendalam

Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) VI/Mulawarman, Kolonel Inf Gatot Teguh Waluyo, menyampaikan rasa duka cita mendalam atas meninggalnya salah satu peserta Diklat SPPI di Balikpapan.

Baca Juga :  Polres Pematangsiantar Gelar Patroli Skala Besar, Pastikan Ibadah Natal 2025 Aman dan Kondusif

“Kami dari Kodam VI/Mulawarman mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan dan keluarga diberi ketabahan serta kesabaran dalam menghadapi cobaan ini. Kita tentu tidak berharap hal ini terjadi,” ujar Gatot, Selasa (23/6/2026).

Gatot juga memberikan klarifikasi terkait isu yang beredar di media sosial mengenai adanya latihan fisik berat selama pelaksanaan Diklat.

Ia menegaskan bahwa kegiatan yang dijalani para peserta saat kejadian lebih banyak berupa proses pembelajaran di dalam ruangan dan tidak didominasi aktivitas fisik berat.

“Kami garis bawahi, kegiatan yang dilaksanakan tidak melibatkan kegiatan fisik yang dalam artian dominan. Pola latihannya dominan pada kegiatan belajar mengajar di dalam kelas,” jelasnya.

Menurut Gatot, selama kegiatan berlangsung, seluruh unsur pendukung mulai dari instruktur, pelatih, pendamping, hingga tim kesehatan terus melakukan pengawasan terhadap kondisi para peserta didik.

Ia memastikan prosedur penanganan medis langsung dilakukan ketika korban mulai mengalami gangguan kesehatan.

Gatot menjelaskan, proses penanganan dilakukan melalui tiga tahapan. Pertama, korban diperiksa secara langsung oleh tim medis yang bersiaga di lokasi kegiatan.

Baca Juga :  Polres Pematangsiantar Luncurkan Gerakan Pangan Murah

Selanjutnya, korban dibawa ke Klinik Kesehatan internal Dodikjur Manggar untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

“Karena melihat perkembangan kondisi korban yang terus menurun dan tidak membaik, tim medis langsung merujuk korban ke Rumah Sakit Dr. R. Hardjanto (RS Tentara) Balikpapan,” sebut Gatot.

“Prosedur penanganan pada saat kejadian sudah dilaksanakan dengan tepat. Saat ini kami masih menunggu hasil dari pendalaman tindak lanjut terhadap kejadian yang menyebabkan satu siswi ini meninggal dunia,” tambah Gatot.

TNI Kawal Pemulangan Jenazah ke Jawa Timur

Terkait proses pemulangan jenazah Anisa Muyassaroh, Kodam VI/Mulawarman memastikan bertanggung jawab penuh secara institusi.

Seluruh rangkaian pengurusan jenazah hingga proses pemulangan dari Balikpapan menuju rumah duka di Jawa Timur dilakukan dan dikawal langsung oleh pihak TNI.

Tragedi meninggalnya dua calon manajer Koperasi Desa Merah Putih ini menjadi perhatian publik dan mendorong evaluasi terhadap pelaksanaan Diklat SPPI, khususnya terkait sistem pembinaan dan kesiapan kesehatan peserta selama mengikuti program.

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

You cannot copy content of this page