TAPUT, LIVESUMUT.com – Upaya meningkatkan keselamatan ibu dan bayi terus diperkuat Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara melalui kolaborasi Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Taput bersama RSUD Tarutung. Kedua instansi tersebut menggelar On The Job Training (OJT) untuk meningkatkan keterampilan klinis tenaga kesehatan dalam mendeteksi dan menangani komplikasi kehamilan serta persalinan.
Pelatihan yang berlangsung di Unit Pelatihan dan Pengembangan Kompetensi (UPPK) RSUD Tarutung ini menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat kesiapan tenaga medis dalam menghadapi kegawatdaruratan maternal dan neonatal, sekaligus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala DKPPKB Taput dr. Ganda Nainggolan, Direktur RSUD Tarutung dr. Bobby Simanjuntak, M.K.M., Wakil Direktur Administrasi, Umum dan Keuangan Dortianna Simanjuntak, Wakil Direktur Pelayanan drg. Karen Lumbantobing, serta Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat dr. Irwan Hutapea.
Sebanyak 81 tenaga kesehatan mengikuti pelatihan ini dalam dua gelombang. Termin pertama diikuti 40 peserta pada 19–23 Oktober 2026, sedangkan termin kedua diikuti 41 peserta yang dijadwalkan berlangsung pada 26–30 Oktober 2026.
Selama lima hari pelatihan, peserta menjalani dua hari pembelajaran secara daring dan tiga hari praktik langsung di lingkungan RSUD Tarutung. Materi praktik diberikan di sejumlah unit pelayanan, meliputi Ruang Kebidanan, Neonatal Intensive Care Unit (NICU), Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK), Kamar Operasi (OK), serta Poliklinik Kebidanan.
Melalui pembelajaran tersebut, peserta dibekali kemampuan untuk mengenali tanda bahaya kehamilan dan persalinan sejak dini, melakukan penanganan awal terhadap kondisi darurat sesuai kompetensi dan standar pelayanan, serta menentukan kebutuhan rujukan secara tepat.
Direktur RSUD Tarutung dr. Bobby Simanjuntak, M.K.M., menyambut baik kehadiran seluruh peserta dan berharap kegiatan OJT menjadi awal dari kerja sama yang semakin kuat antara DKPPKB Taput dan RSUD Tarutung, khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang kesehatan.
Menurutnya, kolaborasi antarlembaga perlu terus dikembangkan agar peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dapat memberikan dampak nyata terhadap kualitas pelayanan, terutama bagi ibu dan bayi.
Ia juga berharap pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari sehingga masyarakat mendapatkan pelayanan yang semakin baik, aman, dan sesuai kebutuhan medis.
Sementara itu, Kepala DKPPKB Taput dr. Ganda Nainggolan menegaskan pentingnya kesungguhan peserta dalam mengikuti seluruh rangkaian pelatihan. Ia meminta para tenaga kesehatan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperdalam pengetahuan sekaligus mengasah keterampilan melalui praktik lapangan.
Ia menekankan bahwa kemampuan mendeteksi komplikasi kehamilan dan persalinan secara cepat merupakan faktor penting dalam menentukan keberhasilan penanganan pasien.
Selain meningkatkan keterampilan klinis dokter, bidan, dan perawat, pelatihan ini juga diarahkan untuk memperkuat kemampuan menghadapi kegawatdaruratan maternal dan neonatal serta meningkatkan koordinasi antarfasilitas pelayanan kesehatan.
Penguatan koordinasi tersebut diharapkan mendukung sistem rujukan berjenjang yang lebih aman, cepat, dan terarah. Dengan demikian, pasien yang membutuhkan penanganan lanjutan dapat memperoleh pelayanan sesuai tingkat kegawatdaruratan dan kebutuhan medisnya.
Pelaksanaan OJT tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk belajar secara langsung di berbagai unit pelayanan RSUD Tarutung. Pendekatan ini diharapkan membantu tenaga kesehatan meningkatkan kesiapan dalam mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi kondisi kritis pada ibu maupun bayi baru lahir.
Kegiatan ini didukung oleh para narasumber dan mentor, yakni dr. Pramulya, Sp.A., dr. Eka Fransiska Tobing, Sp.OG., dr. Ronal Nababan, Sp.OG., dr. Saut Hutasoit, Sp.An-KIC., dr. Eben Ezer Debora Purba, Sp.FM., dr. Jayanta Tarigan, Efrida Purba, Am.Keb., Siti Nurbaya, S.Kep., Ns., Rina Grestauli Hutabarat, H. Romauli Tampubolon, AMK., serta Anita Windasari Pakpahan, Am.Keb.
Keterlibatan para narasumber dan mentor diharapkan dapat memperkaya pengalaman belajar peserta, baik dari sisi pengetahuan, keterampilan teknis, maupun pemahaman mengenai koordinasi penanganan pasien dalam situasi kegawatdaruratan.
Peningkatan kompetensi tenaga kesehatan melalui pelatihan ini diharapkan menghasilkan perubahan nyata dalam pelayanan kesehatan di Kabupaten Tapanuli Utara. Mulai dari meningkatnya kemampuan mengenali tanda bahaya, ketepatan penanganan awal, hingga kelancaran koordinasi rujukan, seluruhnya menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien.
Dalam jangka panjang, penguatan kapasitas sumber daya manusia kesehatan ini diharapkan turut mendukung penurunan risiko kesakitan dan kematian ibu serta bayi di Kabupaten Tapanuli Utara.
Melalui sinergi yang terus dibangun, DKPPKB Taput dan RSUD Tarutung berkomitmen memperkuat pengembangan kompetensi tenaga kesehatan serta meningkatkan kualitas pelayanan maternal dan neonatal.
Kolaborasi ini menjadi langkah penting untuk mendorong pelayanan kesehatan yang lebih responsif, terkoordinasi, dan berorientasi pada keselamatan, sehingga ibu dan bayi di Kabupaten Tapanuli Utara dapat memperoleh pelayanan yang optimal sesuai kebutuhan medisnya.












