Medan, LIVESUMUT.com – Kelangkaan gas elpiji 3 kg semakin meresahkan masyarakat di berbagai daerah.
Warga terpaksa mengantre berjam-jam demi mendapatkan gas bersubsidi yang menjadi kebutuhan pokok rumah tangga.
Situasi ini memicu dugaan adanya praktik mafia migas yang mengendalikan distribusi dan harga gas di lapangan.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua MIGAS Watch, Rion Arios, S.H., M.H., bersama Sekretaris MIGAS Watch, Waliyono, S.Sos., M.I.Kom., mendesak pemerintah untuk segera bertindak tegas.
Mereka menuding mafia migas sebagai penyebab utama krisis ini.
“Lihatlah masyarakat yang harus antre panjang hanya untuk mendapatkan gas elpiji 3 kg. Ini jelas ada penyebabnya. Siapa pelakunya? Tidak lain adalah mafia migas. Pemerintah harus segera bertindak untuk memberantas bandit-bandit ini,” tegas Rion Arios.
Menurutnya, indikasi keterlibatan mafia migas terlihat dari distribusi gas yang tidak merata, serta dugaan adanya penimbunan dan permainan harga oleh oknum tertentu.
“Distribusi gas elpiji 3 kg kerap tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan besar di tengah kesulitan rakyat. Pemerintah harus turun tangan, mengusut tuntas, dan menghukum pelaku yang terlibat,” lanjutnya.
Sekretaris MIGAS Watch, Waliyono, menekankan pentingnya reformasi tata kelola distribusi gas elpiji. Ia menilai pengawasan yang lemah menjadi salah satu penyebab utama masalah ini.
“Masalah kelangkaan ini bukan sekadar urusan distribusi, tapi juga menyangkut pengawasan yang lemah. Pemerintah harus bekerja sama dengan aparat hukum untuk memberantas mafia migas hingga ke akarnya,” ujar Waliyono.
Solusi yang Ditawarkan MIGAS Watch
Untuk mengatasi permasalahan ini, MIGAS Watch mengusulkan beberapa langkah konkret:
- Audit Distribusi Gas: Pemerintah perlu melakukan audit menyeluruh terhadap rantai distribusi elpiji untuk mengidentifikasi penyimpangan.
- Pengawasan Ketat: Pangkalan dan agen penyalur gas harus diawasi secara ketat, terutama di wilayah rawan penimbunan.
- Sanksi Tegas: Hukuman berat harus diberikan kepada pelaku penimbunan dan spekulan harga gas.
Kelangkaan elpiji 3 kg yang terus berlanjut telah menyebabkan lonjakan harga di berbagai daerah, yang paling terdampak adalah masyarakat kecil yang bergantung pada gas bersubsidi.
Dengan langkah-langkah yang tegas dan pengawasan yang ketat, diharapkan krisis ini dapat segera teratasi dan kebutuhan masyarakat kembali terpenuhi.









