Scroll untuk baca artikel
NasionalPeristiwa

Hasil Pemantauan BNPB Pekan Ketiga Februari: Banjir dan Angin Kencang Terjadi di Sejumlah Wilayah Indonesia

295
×

Hasil Pemantauan BNPB Pekan Ketiga Februari: Banjir dan Angin Kencang Terjadi di Sejumlah Wilayah Indonesia

Sebarkan artikel ini

Jakarta, LIVESUMUT.com – Pada pekan ketiga Februari, bencana hidrometeorologi masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

Dua peristiwa signifikan yang tercatat pada Kamis (13/2/2025) adalah banjir di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, dan angin kencang di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Berikut adalah pemutakhiran informasi mengenai kejadian dan penanganan bencana di tanah air.

Banjir di Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan Jawa Tengah

Di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, banjir masih menggenangi beberapa titik hingga Kamis (13/2).

Sebanyak 5 desa di 1 kecamatan terdampak, dengan 3 rumah mengalami rusak berat dan 15 rumah rusak ringan.

Sementara itu, di Kalimantan Barat, banjir masih merendam Kecamatan Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang.

Namun, di wilayah lain seperti Kabupaten Singkawang, Sanggau, Mempawah, dan Sambas, banjir telah surut.

Di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, banjir yang disebabkan oleh tanggul jebol pada Januari serta hujan lebat pada Februari masih berdampak di 21 desa di 3 kecamatan.

Baca Juga :  10 Hari Banjir Marindal: 300 Rumah Terendam, Warga Masih Terlantar

Hingga Kamis (14/2) pukul 19.00 WIB, genangan air berangsur surut, dengan penurunan tinggi muka air 40 cm di Desa Sayung dan 15 cm di Desa Loireng.

Warga dan petugas mulai membersihkan rumah serta fasilitas umum, dan akses jalan utama kini kembali digunakan.

Banjir di Sulawesi Selatan

Banjir yang melanda Kabupaten Maros berdampak pada 66 desa di 14 kecamatan.

Bencana yang terjadi pada Selasa (11/2) ini menyebabkan 1 warga hilang, yang masih dalam pencarian oleh petugas gabungan hingga Rabu (12/2).

Proses evakuasi warga yang terdampak juga terus berlangsung. Berdasarkan pemantauan pada Kamis (13/2), ketinggian air mulai surut di beberapa titik.

Sebanyak 178.083 warga terdampak, sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros masih terus melakukan pendataan di lokasi bencana.

Di Kota Makassar, banjir masih berlangsung hingga Kamis (13/2) dengan ketinggian air 30 – 300 cm, melanda 10 kelurahan di 4 kecamatan.

Baca Juga :  BNPB Apresiasi Gerak Cepat Pemkab Taput, Huntara Layak Huni dan Bantuan Disalurkan

Akibatnya, 1.052 KK atau 3.903 jiwa harus mengungsi ke 43 titik pos pengungsian.

Di tempat lain, tanah longsor yang terjadi di Soppeng, Sulawesi Selatan, pada Senin (10/2) telah ditangani oleh BPBD setempat.

Pembersihan di titik yang tertimbun telah selesai, dan akses jalan kini sudah bisa dilewati kendaraan bermotor.

Longsor ini menyebabkan 7 rumah mengalami kerusakan berat.

Angin Kencang di Sulawesi Selatan

Bencana angin kencang yang melanda Kabupaten Takalar pada Minggu (9/2) masih dalam proses penanganan.

Kejadian ini mengakibatkan 1 rumah rusak berat dan 11 rumah rusak sedang.

Sementara itu, di Kabupaten Pangkajene, sebanyak 26 rumah mengalami kerusakan sedang akibat angin kencang yang terjadi di Desa Parenreng, Kecamatan Segeri. Saat ini, warga telah mulai memperbaiki rumah mereka.

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kedua peristiwa ini.

Baca Juga :  Tragis! Kecelakaan Jadi Pembunuh Ketiga di Indonesia

Angin Kencang di Jawa Timur

Angin kencang juga terjadi di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Rabu (12/2) pukul 14.00 WIB.

Petugas segera bergerak membersihkan pohon tumbang yang menghambat akses jalan, sehingga lalu lintas kembali normal.

Bencana ini dirasakan warga di 5 desa di 4 kecamatan, mengakibatkan 1 orang luka ringan serta kerusakan 19 rumah, 1 ruko, dan jaringan listrik akibat pohon tumbang.

Imbauan BNPB

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi ancaman bencana hidrometeorologi.

“Untuk mitigasi angin kencang, BPBD dan dinas terkait dapat memangkas ranting-ranting pohon, sementara warga dapat mengecek kekuatan struktur atap rumah masing-masing,” demikian imbauan BNPB.

Dengan kondisi cuaca yang masih berpotensi ekstrem, kesiapsiagaan semua pihak sangat diperlukan untuk mengurangi risiko bencana dan melindungi masyarakat.

You cannot copy content of this page