Scroll untuk baca artikel
Advertisement
Advertisement
Promo Mitsubishi Medan - Hubungi Santo Manalu
Daerah

Inflasi Ngamuk, Letnan Dalimunthe Disentil Kemendagri: “Doa Tanpa Aksi Tak Akan Turunkan Harga!

421
×

Inflasi Ngamuk, Letnan Dalimunthe Disentil Kemendagri: “Doa Tanpa Aksi Tak Akan Turunkan Harga!

Sebarkan artikel ini

P.SIDIMPUAN, LIVESUMUT.com – Harga bahan pokok terus melonjak, tapi Pemerintah Kota Padangsidimpuan tampak santai seolah menunggu mukjizat.

Peringatan keras pun datang dari Sekjen Kemendagri, Tomsi Tohir, yang menegaskan, “Inflasi itu bukan soal doa, tapi soal kerja!”

Klik gambar untuk melihat produk dan belanja di Shopee 👇!

Inflasi kian menggila, harga beras, cabai, hingga emas naik tanpa ampun. Namun di tengah kondisi itu, kinerja Pemerintah Kota (Pemko) Padangsidimpuan justru disorot tajam oleh Kementerian Dalam Negeri.

Dalam rapat nasional pengendalian inflasi yang digelar secara virtual, Senin (06/10/25), Sekjen Kemendagri Tomsi Tohir menegaskan, masih ada daerah yang “pasrah” menghadapi gejolak harga.

Baca Juga :  Wabup Samosir Sambut Tim BPK, Targetkan Raih WTP Lagi Tahun Ini

“Inflasi tak bisa diturunkan dengan doa saja, harus dibarengi usaha nyata!” tegas jenderal bintang tiga itu.

Tomsi bahkan menyinggung langsung Kota Padangsidimpuan yang inflasinya terbilang tinggi, padahal tanpa kendala distribusi berarti.

“Papua Pegunungan itu medannya berat, tapi inflasinya cuma 3,55%. Padangsidimpuan yang jalannya mulus malah 5,37%. Ini bukan ujian iman, ini soal kinerja!” sindirnya pedas.

Sindiran itu menjadi tamparan telak bagi Wali Kota Letnan Dalimunthe. Sebab, data menunjukkan inflasi di Kota Padangsidimpuan termasuk yang tertinggi di Sumut dengan inflasi bulanan 1,43%, tahunan 5,37%, dan tahun kalender 4,12%.

Baca Juga :  PDI Perjuangan Kritik Fiberstar, BBHAR Medan Soroti Dugaan Kriminalisasi Karyawan

Wakil Ketua DPRD Padangsidimpuan, Rusydi Nasution, tak menampik kondisi tersebut. Ia menilai lonjakan harga bukan karena gagal panen, melainkan karena distribusi barang yang lemah di tingkat daerah.

“Pasokan bahan pokok itu cuma dua sebab, panen atau distribusi. Nah, di Sidimpuan ini jelas karena distribusi. Pemko jangan diam, harus turun tangan,” ujarnya dengan nada geram.

Rusydi juga menyoroti Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang menurutnya terlalu sibuk rapat, tapi minim hasil.

“Kalau rapat cuma jadi rutinitas, ya inflasi tetap naik. Rakyat butuh aksi, bukan notulen!” katanya ketus.

Baca Juga :  Harumkan Pengabdian, Kalapas Sematkan Pangkat Baru Ke Lima ASN Lapas P.Sidimpuan

Politisi Gerindra itu berharap Pemko segera bangun dari “zona nyaman doa” dan menunjukkan kerja konkret.

“Sudahlah, jangan terlalu banyak jargon. Warga itu butuh harga stabil, bukan janji-janji langit,” tuturnya.

Secara nasional, inflasi Indonesia memang relatif terkendali di angka 2,65% (year-on-year) pada September 2025. Tapi di Sumut, angka itu melonjak jadi 5,32% – dan Padangsidimpuan menjadi salah satu penyumbang tertinggi.

Kenaikan harga dipicu oleh sejumlah komoditas seperti beras, cabai merah, cabai rawit, emas perhiasan, serta biaya kuliah yang ikut meroket.

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

You cannot copy content of this page