Scroll untuk baca artikel
DaerahPolitik

Jangan Main Vonis! Hairul Iman Tegaskan Panitia Bukan Penentu Calon Ketua PWI Tabagsel

72
×

Jangan Main Vonis! Hairul Iman Tegaskan Panitia Bukan Penentu Calon Ketua PWI Tabagsel

Sebarkan artikel ini
Foto: Mantan Ketua PWI Tabagsel periode ke-5 dan ke-6 yang kini dipercaya sebagai Penasehat PWI Tabagsel, Hairul Iman Hasibuan, M.IKom

P.SIDIMPUAN | LIVESUMUT.com – Menjelang Konferensi IX PWI Tabagsel Tahun 2026, perhatian mulai tertuju pada kesiapan panitia dalam menjalankan seluruh tahapan konferensi.

Foto: Mantan Ketua PWI Tabagsel periode ke-5 dan ke-6 yang kini dipercaya sebagai Penasehat PWI Tabagsel, Hairul Iman Hasibuan, M.IKom.

Mantan Ketua PWI Tabagsel periode ke-5 dan ke-6, yang kini dipercaya sebagai Penasehat PWI Tabagsel, Hairul Iman Hasibuan, M.IKom., mengingatkan panitia agar bekerja sesuai tugas dan kewenangannya.

Ia menekankan pentingnya panitia menjaga profesionalitas serta tidak mengambil kewenangan yang berada di luar tugas kepanitiaan.

Hairul Iman menegaskan, panitia konferensi memiliki peran penting dalam mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan.

Namun, panitia bukan pihak yang berwenang menetapkan atau mengesahkan siapa yang memenuhi syarat menjadi calon Ketua PWI Tabagsel.

Menurutnya, persoalan tersebut harus dikembalikan kepada mekanisme konferensi dan aturan organisasi.

“Persyaratan memang diatur dalam PD/PRT PWI, tetapi penetapan siapa yang memenuhi syarat sebagai calon secara sah dilakukan dalam forum konferensi, bukan sebelum konferensi,” ujar Hairul Iman.

Jangan Mendahului Keputusan Forum

Hairul Iman menjelaskan, secara teknis terdapat sejumlah tahapan yang harus dilalui sebelum seseorang dinyatakan sah sebagai calon Ketua PWI Tabagsel.

Konferensi diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan sidang komisi yang membahas program kerja PWI Tabagsel ke depan.

Setelah itu, barulah masuk pada tahapan pendaftaran bakal calon Ketua. Para bakal calon wajib memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, termasuk memperoleh dukungan minimal lima suara anggota biasa.

Jika persyaratan tersebut terpenuhi dan dinyatakan lolos melalui mekanisme persidangan, barulah yang bersangkutan sah menjadi calon dan berhak mengikuti kontestasi.

Baca Juga :  Usulan WabupTaput Disambut Positif Menteri PU, Jalan Silangit - Tarutung Akan Dibenahi

Karena itu, Hairul Iman meminta seluruh pihak tidak mendahului proses yang belum berlangsung.

“Tidak tepat jika sebelum konferensi sudah ada pihak yang menyatakan, ‘hanya saya dan dia yang memenuhi syarat, saya jadi ketua dan dia jadi sekretaris, selesai’. Menurut saya, itu terlalu percaya diri,” katanya.

Dengan nada ringan, Hairul Iman menambahkan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan forum dan peserta konferensi.

“Yang menentukan bukan klaim pribadi, tetapi forum konferensi dan suara peserta. Iya kalau ada yang memilih, kalau tidak ada bagaimana?” ujarnya.

Panitia Bukan Penentu Calon Ketua

Terkait peran panitia, Hairul Iman mengatakan kepanitiaan merupakan bagian penting dalam menyukseskan konferensi.

Panitia menjadi perpanjangan tangan Ketua PWI Tabagsel dan pengurus dalam mempersiapkan berbagai kebutuhan konferensi, mulai dari teknis hingga seremonial.

Koordinasi teknis kegiatan berada pada Ketua Panitia. Sedangkan hal-hal yang berkaitan dengan organisasi, menurut Hairul Iman, harus dikoordinasikan oleh Ketua PWI Tabagsel dan jajaran pengurus dengan PWI Provinsi.

“Panitia pada prinsipnya bertugas menyiapkan dan melaksanakan aspek teknis serta seremonial konferensi. Panitia bukan pihak yang menetapkan atau mengesahkan siapa yang memenuhi syarat menjadi calon Ketua,” tegasnya.

Ia meminta panitia tidak keluar dari koridor tugas yang telah diberikan.

Baca Juga :  Vandiko Gultom Dukung Pembentukan Sekolah Rakyat di Samosir

Penetapan Calon Harus Lewat Persidangan

Hairul Iman menilai persoalan mengenai kapan seseorang dinyatakan memenuhi syarat sebagai calon perlu dijelaskan sejak awal agar tidak menimbulkan polemik.

Menurutnya, meskipun persyaratan calon telah diatur dalam PD/PRT PWI, proses penentuan dan pengesahan calon tetap harus mengikuti mekanisme persidangan konferensi.

Dalam forum tersebut, PWI Sumut yang bertindak sebagai Steering Committee (SC) atau pimpinan sidang akan memandu jalannya persidangan serta memastikan ketentuan organisasi diterapkan.

“Jadi, jangan mendahului keputusan forum,” ujarnya.

Dukung Transparansi, Tapi Jangan Ambil Kewenangan

Sebagai Penasehat PWI Tabagsel, Hairul Iman menyatakan mendukung penuh pelaksanaan konferensi yang transparan, objektif dan demokratis.

Namun, ia mengingatkan bahwa transparansi bukan berarti setiap pihak dapat mengambil kewenangan yang bukan menjadi tugasnya.

“Saya mendukung proses yang transparan dan objektif. Namun, jangan sampai panitia mengambil kewenangan yang bukan menjadi tugasnya,” katanya.

Ia berharap seluruh tahapan dapat dilakukan secara terbuka sehingga setiap peserta memahami mekanisme dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Jadwal Konferensi Perlu Koordinasi Berjenjang

Mengenai jadwal pelaksanaan Konferensi IX PWI Tabagsel, Hairul Iman menyebut saat ini baru terbentuk panitia sehingga jadwal pelaksanaan belum tentu langsung ditetapkan.

Menurutnya, persiapan konferensi organisasi dapat membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan. Penentuan jadwal juga harus menyesuaikan agenda PWI Sumut dan PWI Pusat.

“Apalagi PWI Sumut sendiri sedang mempersiapkan Konferensi PWI Sumut yang dijadwalkan November ini. Jadi, semua harus melalui koordinasi dan penjadwalan organisasi secara berjenjang,” jelasnya.

Baca Juga :  Pemkab Taput Dukung Bimbel Intensif SMAN 1 Pangaribuan, Bekal Siswa Tembus SNBT 2026

Kandidat Diminta Tidak Bangun Klaim Dini

Hairul Iman juga mengingatkan para bakal calon maupun peserta konferensi untuk tidak membangun opini seolah-olah hasil pemilihan telah ditentukan sebelum konferensi digelar.

Menurutnya, setiap kandidat memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti proses sesuai aturan.

“Jangan membangun opini seolah-olah hasil konferensi sudah ditentukan sebelum konferensi berlangsung. Konferensi adalah forum demokrasi organisasi. Yang menentukan adalah aturan, forum persidangan dan suara peserta, bukan klaim atau pernyataan sepihak,” tegasnya.

Harapan untuk PWI Tabagsel

Lebih jauh, Hairul Iman berharap Konferensi IX PWI Tabagsel tidak hanya menjadi agenda pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum memperkuat organisasi.

Ia berharap siapa pun yang nantinya terpilih mampu merangkul seluruh anggota, meningkatkan kompetensi wartawan, memperkuat soliditas organisasi, serta memperjuangkan kesejahteraan anggota.

“Yang paling penting, jangan kita rusak proses konferensi hanya karena kepentingan sesaat. Berkompetisilah secara sehat, ikuti tahapan, hormati forum, dan serahkan keputusan kepada mekanisme organisasi,” pungkasnya.

Bagi Hairul Iman, marwah PWI Tabagsel harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Sebab, konferensi pada akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang duduk di kursi ketua, tetapi tentang bagaimana organisasi pers tersebut menentukan arah perjuangannya ke depan.

You cannot copy content of this page