Scroll untuk baca artikel
Internasional

Dua Jenderal Iran Tewas Diserang Israel, Iran Balas dan Peringatkan AS

944
×

Dua Jenderal Iran Tewas Diserang Israel, Iran Balas dan Peringatkan AS

Sebarkan artikel ini

LIVESUMUT.com – Konflik bersenjata antara Israel dan Iran terus memanas, memasuki hari kesembilan sejak dimulai pada 13 Juni. (Foto: Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi)

Dalam perkembangan terbaru yang mengejutkan, militer Israel mengonfirmasi telah menewaskan dua pejabat tinggi militer Iran dalam serangan udara semalam di kota Qom, Iran.

Dilansir dari The Guardian, salah satu korban adalah Saeed Izadi, Kepala Korps Palestina dari Pasukan al-Quds cabang eksternal dari Garda Revolusioner Iran yang diklaim Israel sebagai tokoh penting di balik pendanaan dan pengiriman senjata kepada Hamas, sebelum serangan 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang di Israel, mayoritas warga sipil.

Pejabat tinggi lainnya yang turut tewas adalah Behnam Shahriyari, yang disebut berperan dalam mendanai milisi Lebanon, Hizbullah.

Keduanya dibunuh dalam serangan terarah ke sebuah apartemen.

Baca Juga :  Setelah 286 Hari, Crew-9 NASA Sukses Pulang ke Bumi! Langkah Besar Manusia Menuju Bulan dan Mars

Menanggapi eskalasi tersebut, Iran meluncurkan rentetan rudal ke arah Israel pada Sabtu (21/6/2025) dini hari.

Meski sebagian besar berhasil dicegat, serpihan rudal menyebabkan kebakaran di pusat Israel.

Tak lama kemudian, serangan drone Iran merusak sebuah gedung di wilayah utara Israel.

Tidak ada korban jiwa dilaporkan dalam serangan balik tersebut.

Berbicara di Istanbul, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan bahwa campur tangan militer Amerika Serikat dalam perang ini akan menjadi “sangat, sangat berbahaya bagi semua pihak”.

Pernyataan ini muncul di tengah ketidakpastian sikap mantan Presiden AS, Donald Trump, yang menyatakan akan memutuskan dalam dua minggu ke depan apakah AS akan bergabung dalam serangan terhadap Iran.

Konflik ini dipicu oleh serangan dini hari Israel terhadap Iran yang diklaim sebagai upaya mencegah pengembangan senjata nuklir.

Baca Juga :  Indonesia-Prancis Resmikan Kerja Sama Ekonomi Kreatif: Babak Baru Diplomasi di Era Prabowo-Macron

Sejak saat itu, kedua negara terlibat dalam serangan balasan yang menewaskan setidaknya 430 warga Iran dan melukai lebih dari 3.500 orang, menurut media pemerintah Iran. Sementara itu, 25 warga Israel tewas akibat serangan Iran.

Upaya diplomasi internasional sejauh ini belum membuahkan hasil.

Pertemuan di Jenewa antara Iran dan negara-negara Eropa (Inggris, Jerman, Prancis, dan perwakilan Uni Eropa) berakhir tanpa terobosan.

Iran menegaskan tidak akan bernegosiasi dengan AS selama Israel masih melakukan pemboman.

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kesiapan Moskow untuk menjadi mediator dalam konflik ini.

Ia menegaskan bahwa Rusia menolak proliferasi senjata nuklir namun mendukung hak Iran untuk menggunakan energi nuklir secara damai.

Israel mengklaim telah menyerang fasilitas nuklir Iran di Isfahan untuk kedua kalinya, serta menghancurkan lebih dari 50% peluncur rudal balistik Iran.

Baca Juga :  Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel-Hamas: Semua Sandera Akan Dibebaskan

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, mengatakan serangan tersebut telah menunda ambisi nuklir Iran “setidaknya dua hingga tiga tahun”.

Namun, Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, memperingatkan bahwa serangan terhadap situs nuklir telah menyebabkan “penurunan tajam dalam keselamatan dan keamanan nuklir”, dan serangan terhadap fasilitas seperti PLTN Bushehr bisa menimbulkan dampak radioaktif besar.

Di sisi kemanusiaan, Israel dituduh telah menyerang fasilitas medis dan ambulans di Iran.

Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk serangan terhadap ambulans Palang Merah sebagai “kejahatan perang” yang nyata.

Dengan krisis yang terus berkembang, para pemimpin dunia mendesak pendekatan diplomatik untuk mencegah perang besar yang bisa meluas ke seluruh kawasan Timur Tengah dan melibatkan kekuatan global lainnya.

You cannot copy content of this page