Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

“We Ring The Bell”: Lonceng Kesetaraan Pendidikan Disabilitas Bergema di Toba

472
×

“We Ring The Bell”: Lonceng Kesetaraan Pendidikan Disabilitas Bergema di Toba

Sebarkan artikel ini

Balige, LIVESUMUT.com – Bunyi lonceng menggema dari SMP Negeri 2 Balige, menandai komitmen bersama untuk mewujudkan pendidikan yang inklusif bagi anak-anak penyandang disabilitas, Kamis (15/05/2025).

Kampanye bertajuk “We Ring The Bell” ini digagas oleh Yayasan Harapan Jaya Pematang Siantar, Panti Karya Hephata HKBP, dan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Toba (PPDT), bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Toba.

Kampanye ini menjadi ajakan terbuka kepada semua pihak untuk menyamakan persepsi bahwa setiap anak, tanpa kecuali, berhak atas pendidikan yang setara dan layak.

Kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi terhadap praktik-praktik diskriminatif yang masih terjadi di lingkungan pendidikan terhadap anak-anak dengan kebutuhan khusus.

Dua penyandang disabilitas turut berbagi pengalaman pribadi yang menyentuh hati.

Jenny Marpaung dari PPDT mengisahkan perjuangannya menempuh pendidikan di tengah perlakuan yang tidak adil.

“Saya hampir menyerah. Tidak hanya anak-anak seusia saya yang membully, tetapi guru juga bahkan memperlakukan saya tidak adil,” katanya.

Baca Juga :  26 Tahun Perjalanan Kabupaten Toba: Dari Pemekaran hingga Perubahan Nama, Ini Sejarahnya!

“Saat akan masuk SMP, saya juga takut untuk melanjut karena saya akan beradaptasi lagi. Tetapi orang tua saya terus menyemangati saya dan saya juga masih tetap mendapat perlakuan yang berbeda. Setelah SMA baru saya mulai merasa nyaman, mungkin karena teman-teman saya sudah semakin dewasa,” tambahnya.

Senada dengan Jenny, Giro Anwar Limbong yang mengalami amputasi kaki akibat kecelakaan saat SD, menceritakan tantangan yang ia hadapi ketika ingin melanjutkan sekolah.

“Kami mohon Bapak-Ibu yang ada di sini agar lebih memperhatikan anak-anak seperti kami,” ucapnya setelah berbagi kisah penolakan dan pengabaian yang pernah ia alami di sekolah.

Kepala Departemen Diakonia HKBP, Pdt. Eldarton Simbolon, menegaskan bahwa We Ring The Bell bukan sekadar seremoni simbolik.

“Ini bukan sekadar simbolik membunyikan lonceng, tetapi menjadi seruan nyata bahwa sudah saatnya dunia pendidikan membuka pintu selebar-lebarnya bagi semua anak, apapun latar belakang dan kondisinya,” tegasnya.

Baca Juga :  Arus Balik Nataru di Toba: Kendaraan Mulai Padat, Pengendara Diingatkan Utamakan Keselamatan

Ia pun mengapresiasi langkah maju Kabupaten Toba yang telah memiliki Perda Nomor 10 Tahun 2019 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas, satu-satunya di Sumatera Utara.

“Ini sebuah langkah maju yang sangat progresif dan perlu kita jaga serta terus dorong implementasinya di semua lini,” tambahnya, sekaligus menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Toba.

Mewakili pemerintah daerah, Bupati Toba Effendi Sintong Panangian Napitupulu menyampaikan dukungannya penuh terhadap kampanye ini.

“Kita sampaikan bahwa semua sekolah wajib menerima semua anak-anak. Tetapi untuk sarana, setiap tahun akan terus kita upayakan agar semua sekolah semakin bersahabat dengan anak-anak disabilitas, termasuk kamar mandi,” ujarnya.

Tak hanya itu, Bupati juga menekankan pentingnya peran guru dalam membentuk sikap penerimaan terhadap teman sebaya penyandang disabilitas.

Baca Juga :  Jelang Hari Raya, Pasar Murah di Toba Sediakan Sembako dengan Harga Terjangkau

“Anak-anak kami, inti acara ini untuk kalian. Apakah kalian siap berteman, bermain dan belajar bersama anak-anak disabilitas?” tanyanya disambut dengan seruan,

“Siap, Pak!”

“Ok, janji ya!” timpal Bupati disambut senyum para peserta.

Bupati juga mengingatkan nilai dasar yang harus dipegang bersama.

“Tidak ada satupun dari kita yang boleh merasa lebih tinggi. Yang membedakan adalah semangat, ketekunan, dan kemauan untuk belajar,” ucapnya di hadapan seluruh hadirin.

Menutup acara, seluruh peserta membubuhkan tanda tangan pada spanduk sebagai wujud komitmen nyata dalam mendukung pendidikan inklusif di Kabupaten Toba dan sekitarnya.

Kampanye We Ring The Bell ini menjadi pengingat bahwa suara perubahan bisa dimulai dari satu lonceng, dan dari sana, gema inklusivitas terus menyebar.

You cannot copy content of this page