Scroll untuk baca artikel
Daerah

ECO-Ulos Taput Dorong Tenun Ramah Lingkungan hingga Pasar Global

58
×

ECO-Ulos Taput Dorong Tenun Ramah Lingkungan hingga Pasar Global

Sebarkan artikel ini
Oplus_0

TARUTUNG, LIVESUMUT.com — Limbah pelepah pisang dan daun nanas yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai kini mendapat “kehidupan kedua” di tangan para penenun Tapanuli Utara. Melalui inovasi ECO-Ulos, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara mendorong lahirnya produk ulos berbasis serat limbah pertanian yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga mengusung konsep ramah lingkungan.

Terobosan tersebut mulai diperkenalkan melalui Program Sosialisasi dan Pelatihan Penenunan Ulos Berbasis Serat Limbah Pertanian (ECO-Ulos) yang digelar di Gedung Dekranasda, Sopo Partungkoan Tarutung, Selasa (11/8/2026).

Kegiatan yang digagas Pemkab Taput melalui Dekranasda bersama Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Koperindag) itu melibatkan 50 penenun atau partonun dari Kecamatan Tarutung, Sipoholon, Siatas Barita, dan Pahae Julu.

Pelatihan tersebut menghadirkan Founder dan CEO PT Saree Jaya Indonesia (Saree Ulos), Juliana Sianturi, sebagai narasumber utama. Para peserta diperkenalkan pada pemanfaatan serat dari pelepah pisang dan daun nanas sebagai bahan baku benang tenun.

Baca Juga :  Pemkab Taput Terima Mobil Pelayanan Pendapatan Daerah dari SOL

Inovasi ini dinilai menjadi langkah strategis untuk mempertemukan kekayaan budaya dengan tuntutan industri kreatif masa kini. Ulos tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya Batak, tetapi juga diarahkan menjadi produk wastra yang memiliki nilai tambah dan memenuhi tren pasar berkelanjutan.

Ketua Dekranasda Kabupaten Tapanuli Utara, Ny. Neny Angelina JTP Hutabarat, mengatakan potensi tersebut semakin kuat karena Taput memiliki lebih dari 6.000 penenun yang menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi kreatif daerah.

Menurutnya, keberadaan para penenun harus diikuti dengan inovasi agar produk yang dihasilkan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

“Ulos bagi masyarakat Batak bukan sekadar kain, melainkan identitas, warisan leluhur, dan sumber penghidupan. Melalui ECO-Ulos, kita membuktikan bahwa limbah pertanian dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi,” ujarnya.

Ia menilai setiap produk yang dihasilkan para penenun memiliki peluang untuk menjadi bagian dari gerakan ekonomi hijau sekaligus membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat.

Baca Juga :  Polres Samosir Kawal Sholat Idul Adha, Ratusan Jemaah Beribadah dengan Aman

Konsep ECO-Ulos juga tidak berhenti pada proses produksi. Pemkab Taput bersama Dekranasda tengah membangun ekosistem yang menghubungkan petani sebagai pemasok bahan baku, penenun sebagai produsen, pelaku UMKM sebagai penggerak usaha, hingga desainer yang dapat membawa produk tersebut ke pasar yang lebih luas.

Untuk memperkuat sisi riset dan inovasi, Pemkab Taput dan Dekranasda juga menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam pengembangan pewarnaan alam. Kolaborasi turut melibatkan Science Techno Park (STP) IPB University serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Rangkaian kolaborasi tersebut dipersiapkan untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus membuka peluang ECO-Ulos menembus pasar nasional hingga internasional.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperindag Tapanuli Utara, Augus Sinaga, memastikan pemerintah daerah akan memberikan pendampingan secara berkelanjutan agar inovasi tersebut tidak berhenti sebatas pelatihan.

Pendampingan akan mencakup legalitas usaha, peningkatan keterampilan, pengembangan produk hingga pemasaran. Fasilitas pemasaran digital yang tersedia di Dekranasda juga akan dimanfaatkan untuk membantu memperluas jangkauan pasar.

Baca Juga :  Tiga Kali Pecah: Material Proyek U-Ditch Gaperta Ujung Disorot, Plt Kadis SDABMBK Kota Medan Bungkam

“Harapan kami, para penenun tidak hanya memproduksi kain, tetapi juga naik kelas menjadi pengusaha tenun yang mandiri dan memiliki daya saing global,” kata Augus.

Melalui program tersebut, para peserta diharapkan tidak sekadar menjadi penerima pelatihan, tetapi mampu berperan sebagai Duta ECO-Ulos di wilayah masing-masing. Mereka diharapkan menjaga kualitas, mengembangkan inovasi, sekaligus memperkenalkan konsep wastra berkelanjutan kepada masyarakat.

Jika dikembangkan secara konsisten, ECO-Ulos berpotensi menjadi lebih dari sekadar inovasi bahan baku. Program ini dapat menjadi model bagaimana limbah pertanian, tradisi, teknologi, dan kreativitas dipadukan untuk menciptakan sumber ekonomi baru tanpa meninggalkan identitas budaya.

Bagi Tapanuli Utara, langkah tersebut sekaligus membuka jalan untuk memperkuat posisi daerah sebagai salah satu pusat pengembangan wastra hijau berkelanjutan di Indonesia.

You cannot copy content of this page