Scroll untuk baca artikel
Advertisement
2 Tahun Anniversary
Bertumbuh dalam Kepercayaan, Bergerak untuk Kebenaran
Advertisement
Advertisement Mitsubishi Dipo Medan - Santo Manalu
Advertisement
Advertisement
Hukum & Kriminal

Beda Keterangan, Publikasi IG Polsek Medan Barat soal Geng Motor Dibantah Kanit Reskrim

267
×

Beda Keterangan, Publikasi IG Polsek Medan Barat soal Geng Motor Dibantah Kanit Reskrim

Sebarkan artikel ini
Kolase Kanit Reskrim Iptu Senior Sianturi, S.H., M.H., dan Kantor Polsek Medan Barat terkait pemberitaan perbedaan keterangan mengenai pengamanan Popo dalam kasus dugaan geng motor.

Medan, LIVESUMUT.com – Publikasi akun Instagram resmi Polsek Medan Barat mengenai pengamanan gerombolan yang diduga geng motor beserta barang bukti senjata tajam (sajam) menjadi sorotan setelah muncul perbedaan keterangan dari Kanit Reskrim Polsek Medan Barat.

Persoalan ini mencuat dalam penanganan seorang warga bernama Popo, yang berdomisili di Jalan Karya Damai, Kelurahan Karang Berombak, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan.

Dalam unggahan Instagram resmi Polsek Medan Barat, disebutkan adanya penindakan terhadap gerombolan geng motor beserta barang bukti senjata tajam di Jalan Karya Damai pada 25 Oktober 2026 sekitar pukul 13.30 WIB.

Namun, informasi yang beredar di tengah masyarakat menyebutkan bahwa Popo telah keluar dan kembali berkeliaran pada sore hari di hari yang sama.

Situasi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai proses penanganan Popo, terlebih setelah Kanit Reskrim Polsek Medan Barat memberikan keterangan berbeda saat dikonfirmasi awak media.

Tangkapan layar unggahan akun Instagram resmi Polsek Medan Barat terkait penindakan terhadap kelompok yang diduga geng motor. Dalam gambar terlihat banner berdiri yang mengindikasikan foto diambil di dalam ruangan kantor kepolisian. Publikasi tersebut menjadi sorotan setelah muncul perbedaan keterangan dari Kanit Reskrim Polsek Medan Barat mengenai pengamanan Popo.

Sorotan terhadap publikasi tersebut juga diperkuat oleh tampilan gambar yang diunggah IG Polsek Medan Barat. Dalam gambar itu terlihat sebuah banner berdiri yang menunjukkan bahwa foto diambil di dalam ruangan kantor kepolisian.

Keberadaan banner tersebut menjadi bagian dari konteks visual yang perlu diperhatikan dalam menelusuri informasi mengenai penanganan kelompok yang diduga geng motor.

Baca Juga :  Geger! Lansia Tewas ditemukan dengan Luka Misterius, Polisi Selidiki Penyebabnya

Meski demikian, tampilan gambar saja belum cukup untuk memastikan secara pasti lokasi pengambilan foto, identitas seluruh orang yang berada di dalamnya, maupun apakah Popo benar-benar dibawa ke Polsek Medan Barat. Karena itu, pencocokan dengan dokumentasi asli, keterangan petugas, dan catatan penanganan pada 25 Oktober 2026 tetap diperlukan untuk memperoleh kejelasan.

Kanit Reskrim Polsek Medan Barat Bantah Amankan Popo

Saat dikonfirmasi mengenai publikasi pengamanan geng motor tersebut, Kanit Reskrim Polsek Medan Barat, Iptu Senior Sianturi, S.H., M.H., membantah bahwa Popo dibawa ke Polsek.

“Kami tidak ada mengamankan, pas kejadian langsung lah di undang Kepling lalu di pulangkan sih Popo bg. Tidak sampai ke Polsek,” ujar Kanit Reskrim, Selasa (27/10/2026).

Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena berbeda dengan informasi yang dipahami masyarakat dari publikasi Instagram resmi Polsek Medan Barat mengenai penindakan terhadap kelompok yang diduga geng motor beserta barang bukti senjata tajam.

Perbedaan keterangan ini menimbulkan sejumlah pertanyaan yang perlu dijawab secara terbuka. Jika Popo tidak dibawa ke Polsek dan langsung dipulangkan melalui keterlibatan kepala lingkungan (Kepling), perlu ada penjelasan mengenai kronologi kejadian serta status penanganannya.

Baca Juga :  Pemeriksaan Senpi di Polres Sergai, Ada Catatan Penting dari Propam

Di sisi lain, isi publikasi Instagram resmi kepolisian juga perlu diperjelas agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran informasi di tengah masyarakat.

Klarifikasi tersebut penting untuk memastikan apakah unggahan itu merujuk pada pengamanan Popo secara khusus atau pada penindakan terhadap kelompok yang diduga geng motor secara keseluruhan.

Muncul Dugaan Uang Rp5 Juta, Kebenarannya Perlu Ditelusuri

Selain perbedaan keterangan mengenai pengamanan Popo, informasi lain yang beredar di tengah warga menyebutkan dugaan pembayaran uang sebesar Rp5 juta yang dikaitkan dengan pemulangannya.

Warga menyebut istilah “TALAS” atau “Tebus Alas” untuk menggambarkan dugaan pembayaran tersebut.

Meski demikian, informasi mengenai dugaan uang Rp5 juta itu masih berdasarkan keterangan yang beredar di masyarakat dan belum terverifikasi secara independen. Belum ada bukti terkonfirmasi yang memastikan adanya transaksi maupun keterkaitannya dengan penanganan Popo oleh kepolisian.

Karena itu, dugaan tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut oleh pihak berwenang. Klarifikasi diperlukan untuk memastikan apakah informasi tersebut benar atau justru tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.

Apabila terdapat indikasi pelanggaran, pemeriksaan sesuai mekanisme yang berlaku perlu dilakukan. Sebaliknya, jika dugaan tersebut tidak terbukti, penjelasan resmi diperlukan agar tidak berkembang menjadi informasi yang menyesatkan.

Baca Juga :  Jual Sabu di Silimakuta, Pria 41 Tahun Dibekuk Bersama 8 Paket dan Motor

Warga Minta Kapolrestabes Medan dan Propam Polda Sumut Turun Tangan

Perbedaan keterangan mengenai pengamanan Popo dan publikasi Instagram Polsek Medan Barat mendorong desakan agar persoalan ini ditelusuri secara menyeluruh.

Warga meminta Kapolrestabes Medan Kombes Pol. Jean Calvin Simanjuntak dan Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Sumatera Utara melakukan penelusuran untuk memastikan kronologi kejadian pada 25 Oktober 2026.

Pemeriksaan diharapkan mencakup keterangan petugas yang terlibat, administrasi penanganan, status barang bukti senjata tajam, serta dasar informasi yang disampaikan melalui akun Instagram resmi Polsek Medan Barat.

Selain itu, rekaman CCTV Polsek Medan Barat, apabila tersedia dan relevan, juga dinilai perlu diperiksa untuk membantu memperjelas apakah Popo pernah dibawa ke kantor polisi pada hari kejadian.

Penelusuran tersebut penting agar perbedaan keterangan dapat dijelaskan berdasarkan bukti dan fakta, bukan sekadar asumsi yang berkembang di masyarakat.

Desakan ini juga menjadi pengingat bahwa setiap informasi yang disampaikan melalui kanal resmi kepolisian perlu memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Advertisement
Advertisement

You cannot copy content of this page