LIVESUMUT.com | Ketegangan di perbatasan Thailand-Kamboja kembali memuncak ke titik paling berbahaya dalam satu dekade terakhir.
Militer Thailand pada Kamis (24/7) mengonfirmasi telah meluncurkan serangan udara menggunakan jet tempur F-16 ke wilayah Kamboja, menghancurkan target militer setelah serangkaian bentrokan bersenjata yang dipicu oleh konflik perbatasan lama.
Dari enam pesawat F-16 yang disiagakan di sepanjang perbatasan, satu di antaranya telah dikerahkan untuk menyerang dua posisi militer di dalam wilayah Kamboja.
Serangan ini merupakan respons terhadap tembakan roket dan artileri yang diduga dilancarkan lebih dulu oleh pasukan Kamboja.
“Kami telah menggunakan kekuatan udara terhadap target-target militer sebagaimana telah direncanakan,” kata Wakil Juru Bicara Angkatan Darat Thailand, Richa Suksuwanon, dilansir dari Reuters.
Bentrok bermula sejak pukul 07.35 pagi waktu setempat ketika satuan penjaga Candi Ta Muen mendeteksi drone Kamboja melintas di atas wilayah mereka.
Beberapa menit kemudian, enam prajurit Kamboja bersenjata, termasuk satu membawa peluncur granat terlihat mendekati pos Thailand.
Setelah tembakan dilepaskan ke arah timur candi sekitar pukul 08.20, situasi berubah menjadi pertempuran terbuka.
Militer Thailand menyatakan bahwa dua roket BM-21 menghantam permukiman di Distrik Kap Choeng, Surin, menyebabkan luka pada tiga warga sipil dan menyulut keputusan untuk melakukan serangan udara.
“Kami akan melakukan yang terbaik untuk melindungi kedaulatan kami,” tegas Penjabat Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai.
“Situasi ini memerlukan penanganan hati-hati, dan kami harus bertindak sesuai dengan hukum internasional.” tambahnya.
Namun, dari pihak Kamboja, aksi Thailand disebut sebagai pelanggaran terhadap integritas wilayah nasional.
“Sebagai tanggapan, angkatan bersenjata Kamboja menjalankan hak sah untuk membela diri, sepenuhnya sesuai dengan hukum internasional, untuk menghalau pelanggaran oleh Thailand dan melindungi kedaulatan serta integritas wilayah Kamboja,” ujar Juru Bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata.
Ketegangan ini berakar dari sengketa perbatasan sepanjang 817 kilometer yang belum sepenuhnya disepakati sejak lebih dari satu abad lalu.
Konflik ini telah beberapa kali meletus, termasuk insiden besar tahun 2011 yang berlangsung selama sepekan.
Krisis terbaru ini telah merenggut korban jiwa.
Militer Thailand menyebut sedikitnya sembilan warga sipil tewas, termasuk seorang anak dan 14 lainnya terluka dalam serangan artileri lintas batas yang mereka tuduhkan pada pasukan Kamboja.
Enam korban tewas ditemukan di dekat pom bensin di Provinsi Sisaket, sementara tiga lainnya tewas di Surin dan Ubon Ratchathani.
Sementara itu, mantan Perdana Menteri Kamboja yang berpengaruh, Hun Sen, turut angkat bicara lewat media sosial.
Dalam pernyataan Facebook-nya, ia menyebutkan bahwa dua provinsi Kamboja telah menjadi sasaran tembakan dari militer Thailand.
Krisis diplomatik juga terus memburuk. Rabu malam, Thailand menarik pulang duta besarnya dari Phnom Penh dan mengusir duta besar Kamboja dari Bangkok, menyusul kematian dua prajurit Thailand akibat ranjau darat.
Thailand menuduh Kamboja menanam ranjau-ranjau tersebut baru-baru ini, tuduhan yang dibantah Phnom Penh dengan menyebut bahwa tentara Thailand memasuki zona berbahaya yang penuh dengan ranjau peninggalan konflik lama.









