Scroll untuk baca artikel
Daerah

Saat Warga Berjuang Bangkit dari Bencana, PT SOL Justru Dinilai Bungkam dan Tak Hadir

626
×

Saat Warga Berjuang Bangkit dari Bencana, PT SOL Justru Dinilai Bungkam dan Tak Hadir

Sebarkan artikel ini

Taput, LIVESUMUT.com – Di tengah penderitaan warga yang masih berjuang memulihkan kehidupan pascabencana hidrometeorologi, sikap PT Sarulla Operations Ltd (PT SOL) menuai sorotan tajam. Perusahaan energi panas bumi terbesar di dunia itu disebut belum menyalurkan bantuan apa pun kepada masyarakat terdampak di Kabupaten Tapanuli Utara hingga pertengahan Februari 2026.

Bencana yang terjadi sejak akhir November 2025 lalu meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat. Rumah-rumah rusak, lahan pertanian hancur, korban jiwa berjatuhan, dan roda perekonomian warga di sejumlah kecamatan nyaris terhenti total.

Ironisnya, di saat pemerintah daerah, TNI–Polri, relawan kemanusiaan, serta berbagai elemen masyarakat bahu-membahu membantu korban, kontribusi PT SOL justru belum terlihat secara nyata.

Baca Juga :  Pasien Tidak Dilayani di RSUD Tarutung, Pihak Rumah Sakit Berikan Klarifikasi

Sekretaris Daerah Kabupaten Tapanuli Utara, Henry Sitompul, mengungkapkan bahwa pihak perusahaan memang pernah datang meninjau lokasi terdampak. Namun hingga kini, pemerintah daerah tidak mengetahui adanya bantuan yang disalurkan kepada korban.

“Memang pernah pihak PT SOL datang, tapi kami tidak tahu apakah mereka memberikan bantuan atau tidak,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (18/2/2026).

Pernyataan tersebut diperkuat oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapanuli Utara. Berdasarkan data logistik BPBD, belum ada catatan bantuan, baik berupa barang maupun dukungan lain, yang berasal dari perusahaan tersebut.

Baca Juga :  Berawal dari Laporan Warga, Satresnarkoba Sibolga Gulung Dua Pengedar Sabu di Operasi Subuh

Padahal, PT SOL mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) berkapasitas 330 megawatt di wilayah Pahae Jae dan Pahae Julu—beroperasi langsung di tengah masyarakat serta memanfaatkan sumber daya alam daerah setempat.

Kondisi ini memunculkan kekecewaan di tengah masyarakat. Warga menilai perusahaan seharusnya hadir bukan hanya sebagai pelaku industri, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas sosial yang memiliki tanggung jawab moral melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), terutama saat masyarakat berada dalam situasi darurat.

“Ketika masyarakat susah, perusahaan seharusnya ikut merasakan dan membantu,” ungkap salah seorang warga terdampak.

Baca Juga :  Doa Lintas Agama dan Bantuan Pemulihan Iringi Duka Pascabencana

Hingga berita ini diturunkan, pihak Humas PT SOL, Hindustan Sitompul, belum memberikan keterangan resmi terkait alasan belum adanya penyaluran bantuan kepada warga terdampak bencana di Kabupaten Tapanuli Utara.

Ketiadaan respons tersebut semakin menimbulkan pertanyaan publik: di tengah krisis kemanusiaan, di manakah peran sosial perusahaan yang selama ini beroperasi di jantung wilayah Taput?

You cannot copy content of this page