Scroll untuk baca artikel
Hukum & Kriminal

Nama Tata Mencuat, Jaringan Narkoba Aek Loba Diduga Dilindungi Polres Asahan

1758
×

Nama Tata Mencuat, Jaringan Narkoba Aek Loba Diduga Dilindungi Polres Asahan

Sebarkan artikel ini

Asahan, LIVESUMUT.com –  Desa Aek Loba, sebuah sudut kecil di Kabupaten Asahan yang dikenal tenang dengan lantunan azan saban waktu, kini menjadi sorotan publik.

Di balik ketenangan itu, warga justru dicekam ketakutan akibat maraknya peredaran narkoba yang semakin terang-terangan di wilayah mereka.

Nama Tata mencuat sebagai sosok yang disebut-sebut kuat terlibat sebagai otak jaringan narkoba di kawasan tersebut.

Warga yang berkali-kali melaporkan aktivitas mencurigakan di sekitar kuburan Cina kini merasa seperti berbicara kepada tembok.

Laporan demi laporan dilayangkan, namun tindakan nyata aparat penegak hukum nyaris tak pernah terlihat.

Yang lebih menyakitkan, warga menduga kuat aparat justru memberi karpet merah bagi Tata dan jaringannya.

Baca Juga :  Empat Pengedar Narkoba Dibekuk Ditres Narkoba Polda Sumut di Wilayah Tanjung Balai, Bos Besar Masih Diburu

Saat warga mencoba menyuarakan kegelisahan mereka secara langsung kepada IPDA Supangat, Kanit Resnarkoba Polres Asahan, mereka malah mendapatkan perlakuan yang mencederai rasa keadilan, nomor kontak mereka justru diblokir.

Warga menilai, ini bukan lagi sekadar kelalaian, tetapi dugaan pembiaran yang sistematis.

Seorang warga yang meminta namanya dirahasiakan demi keselamatan mengungkapkan bahwa aktivitas mencurigakan di area pemakaman sudah berlangsung lama.

“Kalau malam, motor keluar masuk. Ada juga mobil gelap. Kita tahu itu bukan ziarah,” ujarnya.

Sikap aparat yang justru memutus komunikasi dengan pelapor kian meruntuhkan kepercayaan masyarakat.

“Bagaimana warga bisa yakin hukum bekerja jika aparat justru menutup mata? Atau memang hukum hanya tajam ke bawah, tumpul ke atas?” tambahnya.

Baca Juga :  Polres Pelabuhan Belawan Tangkap Pria yang Aniaya Pasangannya di Rengas Pulau

Menurut pengakuan warga, Tata bukanlah nama baru di jaringan narkoba lokal Aek Loba.

Sosoknya sudah lama dikenal sebagai pemain besar, namun anehnya, ia tak pernah tersentuh hukum, apalagi dijerat pidana.

Di mata masyarakat, Tata seakan bukan warga biasa, melainkan seseorang yang diduga mendapat “perlindungan” dari kekuasaan.

“Apakah ini bukti lain bahwa di negeri ini hukum bisa dibeli?” ujarnya lagi.

Warga menegaskan, narkoba bukan hanya merusak fisik, tapi juga menghancurkan masa depan generasi muda Aek Loba.

Ketika anak-anak terseret dalam pusaran candu, siapa yang akan bertanggung jawab?

Diamnya aparat disebut warga sebagai pengkhianatan terhadap sumpah profesi mereka.

Baca Juga :  Pelaku Ngintip Niat Mencuri, Nekat Masuk Truk di SPBU Siantar, Berakhir Dicekik Sopir dan Ditangkap

Pemblokiran kontak pelapor oleh seorang Kanit Resnarkoba tidak hanya mencerminkan ketidakprofesionalan, tetapi juga menjadi sinyal terang-benderang bahwa ada sesuatu yang disembunyikan, ada seseorang yang dilindungi.

Masyarakat Aek Loba hanya menginginkan satu hal yaitu rasa aman.

Dan keamanan itu mustahil hadir selama gembong narkoba bebas berkeliaran dan aparat diduga bermain mata.

Warga juga memperingatkan, jangan sampai mereka terpaksa mengambil tindakan sendiri karena hukum gagal menunjukkan keberpihakan pada kebenaran.

Tata mungkin bukan satu-satunya. Tetapi selama sosok seperti dia dibiarkan melenggang tanpa hambatan, sementara polisi lebih sibuk membungkam pelapor daripada menangkap pelaku, maka Aek Loba akan tetap menjadi ladang subur bagi kehancuran.

You cannot copy content of this page